Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

MENGINGATMU HANYA AKAN MEMBUANG WAKTU

Oleh: Jinan Avia Kau tahu? Berapa banyak rindu yang kau kirim sejak perpisahan kita tahun lalu? Kau tahu? Berapa banyak luka yang kau torehkan hingga sedikit demi sedikit rasa ini pudar? Kau tahu? Aku adalah wanita bodoh dengan cinta yang bodoh. sudahkah kau mengucap istighfar tanda percaya? Mengingatmu hanya akan membuang waktu. Kau tahu kan? Aku cukup sibuk dengan duniaku saat ini. Sudah, tolong hapuskan bayang-bayang masa lalu itu. gantikan dengan secercah harapan indah di masa datang. Haruskah ku melawan arus tanda godaan melayang? Atau haruskah ku berdiam tanda tak mampu melawan? Kau ingat? Bahwa kenangan kita adalah seputar hujan? Hujan di malam yang sunyi dengan petir yang menyambar dahsyat. Aduhaii.. Kau ingat? Katamu dulu, hujan adalah fenomena yang paling mengasyikkan. Fenomena Tuhan yang paling indah disyukuri. Sepertinya kita sedang mempraktikkan cerita konyol Abu Nawas tentang hujan. Bahwa hujan adalah rahmad Tuhan yang bahkan tidak boleh kaki kita menginjak-i...

TAK LAGI MAMPU BICARA (?)

Aku ingat, 2 tahun yang lalu adalah hari yang bersejarah dalam hidupku. Entah bagaimanapun, sebuah kenangan akan selamanya bercampur dan mengalir seperti halnya air. Jika kita mampu mengubah kenangan menjadi manis, semua masa depan pun akan terlihat manis. Begitupun sebaliknya. Ada saat dimana seseorang merasakan dilema yang berkepanjangan serta galau yang jadi antrian setiap malam. Memikirkan ini itu tentu membuat pikiran melayang serta pusing ringan akibat melawan kenyataan. Memilikimu mungkin adalah hal terindah, seperti halnya memiliki barang langka yang bisa dilelang hingga ratusan atau bahkan milyaran rupiah. Dirimu bahkan tak mampu kulukiskan walau hanya lewat sajak tulisan. Namun ketahuilah, rasa yang telah kita pupuk hingga saat ini akan menjadi saksi bahwa cinta tak hanya berujung pada profesi. Seperti katamu waktu itu bahwa kau ingin memiliki pendamping hidup yang selalu berada di belakangmu, menjadi partner hidup dan menemani disaat suka maupun disaat kesedihan melan...

RINDU DARI SEBERANG

Oleh: Siti Afiah Keindahan yang dihasilkan pelangi itu hanya sementara. Sama halnya seperti keindahan yang diciptakan hanya untuk bersandiwara. Bepura-pura tersenyum meski hati terasa sakit dan lara. Namaku faila. Lebih tepatnya Failasufa. Aku anak seorang doktor dengan jabatan tertinggi di salah satu universitas. Ayahku adalah orang yang sangat disegani siapa saja, apapun yang ia lakukan selalu saja membuat masyarakat tercengang dan mengaguminya. Ayahku selalu bersikap sopan kepada siapapun. Termasuk kepada seorang pengemis di jalanan. Aku pernah melihatnya waktu itu saat berangkat sekolah, berpapasan dengannya saat ayah mencoba memberi sepotong roti  seorang pengemis berbaju lusuh itu. Ayahku adalah seorang yang mengagumkan. Aku pun bangga mempunyai ayah sebaik dan segagah dia. Siapapun orangnya pasti sangat mengharapkan ayah seperti dia. Namun, semenjak dua bulan terakhir ini aku sering menemui ayah bukan seperti ayah yang ku kenal. Sejak lahir hingga usiaku kini 18 tahun...

TUHAN SELALU ADIL

Oleh: Siti Afiah* Jalanan ini bagiku begitu memukau. Banyak anak-anak manusia yang mengorbankan dirinya dari keramaian kota, berhura-hura, dan kemudian berproses menjadi manusia mulia. Sungguh, ini pemandangan yang sebelumnya tak pernah kutemukan di kampung halaman. Gumamku dalam hati. “Coklat?” kata Ana sambil menyodorkan sebatang coklat yang kusuka,silverqueen. “Terimakasih, An.” Kuterima coklat itu lalu kumakan sembari duduk di latar menikmati alunan merdu Al-Qur’an. “Semenjak kehadiranku di desa ini sebagai mahasiswa magang, aku semakin yakin bahwa masih banyak hal yang luar biasa di dunia ini. Aku memang terlahir dari keluarga non muslim. Ayahku memiliki gereja terbesar di Yogyakarta sedangkan mamaku adalah seorang bisnis women. Sejak kecil aku tak pernah mendengar lantunan merdu seperti yang dilantunkan anak-anak kecil ini, An. Aku sangat menikmatinya. Sungguh.” Panjang lebar kuceritakan siapa diriku sesungguhnya kepada Ana. Ana adalah warga kampung Sidohasri yang be...

MENETRALISIR AGAMA ISLAM MODERNITAS DI INDONESIA

Oleh: Siti Afiah Indonesia sebagai negara demokrasi memiliki keanekaragaman budaya serta akar sejarah yang kuat dalam bermasyarakat. Ekspresi dan aksi masyarakatpun berbeda hingga sangat wajar sekali apabila memiliki kecenderungan-kecenderungan kontemporer dalam bidang agama. Saat ini agama di Indonesia memiliki banyak sekali hal untuk dikaji, terutama adalah agama Islam sehingga pengkajian dan analisis baru terus digali dari berbagai kalangan. Setiap individu dan pemeluk agama pasti meyakini bahwa ajaran agama yang dianutnya adalah benar. Tak peduli jika ajarannya menyimpang dari norma dan aturan negara, jika menurutnya benar tentu ia akan mempertahankan ajaran yang diyakininya sebagai keyakinan yang agung. Problematika agama Islam di Indonesia kini menjadi masalah yang begitu pelik jika didiskusikan. Dengan berbagai macam aliran yang melingkupinya, ajaran-ajaran tersebut begitu meresahkan masyarakat dan para ulama dalam menyikapi hal tersebut. sehingga dapat pula diprediksi ba...

Seelok Bidadari Surga

Kesendirian ini sungguh menyiksa. Setiap saat hanya rindu yang menghampiri, menepuk kedua mata untuk selalu mengingat indah matanya. Lama kuperhatikan langkahnya, petak demi petak keramik berwarna kuning seakan memberi saksi bahwa aku sungguh terpesona. Namanya Syarifah, entah siapa nama lengkapnya. Tapi yang jelas aku hanya tahu nama panggilan yang biasa diucapkan teman sekelasnya. Aku suka memandang matanya, melihat mushaf yang selalu menjadi teman sehari-harinya. Wajahnya teduh, bibirnya pun tak henti-hentinya menyebut asma Allah yang Esa. Semakin hari aku semakin dibuat penasaran oleh sesosok gadis berwajah teduh itu. hingga suatu saat aku mengikutinya sampai di depan gerbang rumahnya. Kejadian ini berlangsung saat aku masih menyandang status sebagai mahasiswa. Kira-kira dua tahun yang lalu. Dan anehnya, sampai saat ini aku kehilangan jejaknya sebagai wanita penakluk hatiku. Entah kemana.             “Dreett.. dreet... dree...

Perasaan yang Terpaksa Harus Dimusnahkan

Maafkan aku yang terpaksa menyakitimu Maafkan aku, aku memang manusia bodoh dengan cinta yang bodoh. Bahkan aku tahu rasa kecewa dan bahagia itu seperti apa. Namun aku tak tahu rasanya dipaksa untuk mencinta seperti apa. Entahlah, seperti air mengalir atau malah seperti burung dalam sangkar. Bahagia atau menderita? Aku juga tak tahu. Aku bingung harus memulainya dari mana. Tak sepantasnya aku mengirim pesan pendek untuk mengakhiri hubungan kita. Aku cukup tahu tentang etika. Pernah belajar di pondok pesantren dan madrasah aliyah, cukup mendorongku untuk menjadi manusia yang bisa menjaga perasaan orang lain. tapi, apakah keputusanku ini kelak akan menyakitkanmu? Maafkan aku, Mas. Jiwa raga, hati, pikir serta naluriku tak pernah sedikitpun berniat untuk hal sebodoh ini. Sebodoh aku yang tak bisa menolak perjodohan itu. pernah suatu saat aku mengirim pesan pendek kepadamu tentang rahasiaku yang belum kau ketahui. Dan kau membalasnya dengan tanggapan masalah perjodohan. Atau hal y...