MENETRALISIR AGAMA ISLAM MODERNITAS DI INDONESIA

Oleh: Siti Afiah
Indonesia sebagai negara demokrasi memiliki keanekaragaman budaya serta akar sejarah yang kuat dalam bermasyarakat. Ekspresi dan aksi masyarakatpun berbeda hingga sangat wajar sekali apabila memiliki kecenderungan-kecenderungan kontemporer dalam bidang agama. Saat ini agama di Indonesia memiliki banyak sekali hal untuk dikaji, terutama adalah agama Islam sehingga pengkajian dan analisis baru terus digali dari berbagai kalangan.
Setiap individu dan pemeluk agama pasti meyakini bahwa ajaran agama yang dianutnya adalah benar. Tak peduli jika ajarannya menyimpang dari norma dan aturan negara, jika menurutnya benar tentu ia akan mempertahankan ajaran yang diyakininya sebagai keyakinan yang agung.
Problematika agama Islam di Indonesia kini menjadi masalah yang begitu pelik jika didiskusikan. Dengan berbagai macam aliran yang melingkupinya, ajaran-ajaran tersebut begitu meresahkan masyarakat dan para ulama dalam menyikapi hal tersebut. sehingga dapat pula diprediksi bahwa akan terjadi kemunduran agama dari panggung kehidupan manusia. Namun, anggapan ini menurut Prof. DR. Abdul Djamil dalam pengantar buku agama-agama baru di Indonesia, ternyata tidak terbukti. Agama justru terus menjadi sesuatu yang menarik minat umat manusia.
Sudah selayaknya, jika kajian tentang agama di Indonesia ini banyak diminati dari berbagai kalangan, berarti tanpa kesediaan untuk menghormati dan menghargaipun, seluruh lapisan masyarakat akan saling menghormati apapun yang mereka percayai. Namun dalam kenyataannya, membangun sikap saling menghargai antar komunitas beragama bukanlah hal yang mudah untuk dijalankan. Perbedaan-perbedaan itu justru banyak memunculkan konflik beragama yang besar. misalnya dalam agama Islam banyak terjadi pertumpahan darah, kekerasan, saling menjatuhkan, dan lain sebagainya. Konflik-konflik itu terjadi karena ingin mengunggulkan aliran satu dari pada aliran yang lain. begitupun sebaliknya. Padahal telah jelas hadis Rasulullah Ṣalla Allah’Alaihy wa Sallam yang mengatakan bahwa umat Islam satu dengan yang lainnya adalah laksana bangunan. Antara satu dengan yang lainnya saling berkaitan. Tidak memungkinkan jika bangunan hanya terdiri dari satu tiang saja tanpa adanya atap ataupun tembok yang melingkarinya. Hal tersebut sangat mustahil.
Kita ketahui bahwa aliran-aliran agama sesungguhnya muncul ketika tatanan nilai kemanusiaan menyimpang dari ajaran agama yang telah dibawa oleh Rasulullah Ṣalla Allah’Alaihy wa Sallam beberapa abad yang lalu. Nilai-nilai kemanusiaan kemudian dibuat sesuka hati tanpa menghiraukan apa yang sesungguhnya diyakini sebagai suatu kebenaran. Tak peduli mana yang benar dan mana yang salah. Semuanya mulai mengedepankan ego pemeluk masing-masing.
Salah satu contoh kefanatikan ego manusia banyak terjadi di Indonesia. Akhir-akhir ini masyarakat Islam telah banyak diresahkan oleh GAFATAR (Gerakan Fajar Nusantara). Gerakan ini cukup membuktikan bahwa Islam adalah sasaran yang empuk dalam menelusuri aspek keagamaan. Umat Islam di Indonesia dihebohkan dengan pengakuan Ahmad Musaddeq dengan ajaran yang dibawanya yaitu al-Qiyadah al-Islamiyah yang kemudian mengaku dirinya sebagai penyelamat ajaran yang ditunggu-tunggu. Secara sekilas, kita semua tahu bahwa hal tersebut tidaklah benar di mata Islam. Bahkan Majelis Ulama Indonesia atau yang biasa disebut dengan MUI telah menjatuhkan hukum sesat terhadap gerakan yang tidak lama telah mampu meresahkan masyarakat Indonesia ini.
Sebagai umat Islam, terlebih lagi kita yang berprofesi sebagai mahasiswa terkadang bingung dengan banyaknya aliran di Indonesia yang muncul hanya karena kefanatikan ego dan mengedepankan gengsi. Lalu, solusi apa yang sepantasnya kita lakukan untuk menetralisir setiap aliran-aliran yang berkembang di Indonesia ini? Tentu kita harus mempunyai pijakan yang layak untuk dipertahankan.
Menanggapi permasalahan-permasalahan di atas, sudah sepatutnya kita sebagai umat Islam sekaligus mahasiswa berpegang teguh terhadap al-Qur’an dan sunnah. Karena pada dasarnya al-Qur’an adalah sumber pertama dalam ajarana agama Islam, sedangkan sunnah adalah sumber kedua setelah al-Qur’an.
Dalam hal ini, Rasulullah Ṣalla Allah’Alaihy wa Sallam pernah bersabda yang diriwayatkan oleh al-Irbadh bin Suriyah r.a, Rasulullah Ṣalla Allah’Alaihy wa Sallam bersabda: "Saya berpesan kepada kamu sekalian, hendaklah kamu takut kepada Allah Subḥānahu wa ta’ālā  dan mendengarkan serta patuh, sekalipun kepada bangsa Habsy, karena sesungguhnya orang yang hidup antara kamu sekalian di kemudian aku, maka akan melihat perselisihan yang banyak, maka dari itu hendaklah kamu sekalian berpegang kepada sunahku dan sunah para khulafah yang menetapi petunjuk yang benar, hendaklah kamu pegang teguh akan dia dan kamu gigitlah dengan geraham-geraham gigi, dan kamu jauhilah akan perkara-perkara yang baru diada-adakan, karena sesungguhnya semua perkara yang baru diadakan itu adalah bid’ah, dan semua bid’ah itu adalah sesat." (HR Ahmad)

Semoga kita semua senantiasa dalam lindungan Allah Subḥānahu wa ta’ālā  karena tidak ada yang dapat meluruskan jalan yang sudah bengkok kecuali Allah, begitu pun sebaliknya. Waallahu a’lam

Komentar