Seelok Bidadari Surga

Kesendirian ini sungguh menyiksa. Setiap saat hanya rindu yang menghampiri, menepuk kedua mata untuk selalu mengingat indah matanya. Lama kuperhatikan langkahnya, petak demi petak keramik berwarna kuning seakan memberi saksi bahwa aku sungguh terpesona.
Namanya Syarifah, entah siapa nama lengkapnya. Tapi yang jelas aku hanya tahu nama panggilan yang biasa diucapkan teman sekelasnya. Aku suka memandang matanya, melihat mushaf yang selalu menjadi teman sehari-harinya. Wajahnya teduh, bibirnya pun tak henti-hentinya menyebut asma Allah yang Esa. Semakin hari aku semakin dibuat penasaran oleh sesosok gadis berwajah teduh itu. hingga suatu saat aku mengikutinya sampai di depan gerbang rumahnya. Kejadian ini berlangsung saat aku masih menyandang status sebagai mahasiswa. Kira-kira dua tahun yang lalu. Dan anehnya, sampai saat ini aku kehilangan jejaknya sebagai wanita penakluk hatiku. Entah kemana.
            “Dreett.. dreet... dreet..” handphoneku bergetar saat jam kuliah ulumul hadist berlangsung. kubuka dan kubaca perlahan agar tak ketahuan oleh dosen killer itu.
Ternyata sms dari ibu yang menyuruh cepat pulang setelah kuliah untuk membantunya di toko. Memang selepas ayah meninggal, aku harus menjaga ibu lebih dari biasanya. Aku punya tanggung jawab yang sangat besar untuk menggantikan almarhum ayah.
            Selepas kuliah, sesegera mungkin kutinggalkan ruangan dan bergegas pulang. Namun siapa sangka jika mata ini melihat suatu karya tangan Tuhan yang sungguh elok. Gadis berjilbab biru muda dengan balutan gamis berwarna merah bata. Di tangannya terdapat satu mushaf kecil berwarna pink. Mushaf Aisyah. Ya, aku tahu karena ibuku berjualan Al-Qur’an dan sedikit kitab salaf di kedai buku dekat rumahku. Meski tak menghafal kalam Tuhan itu, tapi setidaknya aku sudah lumayan lancar membaca Al-Qur’an. Sebelum ayah meninggal, waktu aku berumur 6 tahun, aku sudah bisa membaca juzamma dengan tartil. Ayahku yang mengajarinya. Luar biasa bukan? Tapi bukan itu yang ingin aku ceritakan, melainkan sesosok gadis itu.
            Setan memang sangat pandai, kapan saja dia mau menerkam, setiap saat pula manusia luluh dengan terkamannya. Aku mulai fokus dengan langkahku yang mengikuti langkah gadis berjilbab biru muda itu. kupandangi dan kuikuti dia di belakang.
            “Syarifah.. tunggu..”
Aku mendengar temannya berbincang dan memanggilnya dengan sebutan Syarifah. Aku semakin yakin bahwa namanya adalah syarifah, tak tahu nama lengkapnya juga tak masalah. Yang penting bisa tahu nama panggilan dulu. Lama kupandangi, aku ingin sekali berkenalan dengannya, mengetahui fakultas dan jurusannya, dan terlebih jika tahu alamat rumahnya. Tapi apa daya, waktu tak selamanya berpihak padaku. Aku hanya terus menunggu dengan memupuk keberanian untuk bisa berkenalan dengannya. Tapi apa aku bisa? Setahuku dia tak pernah sekalipun bicara dengan lawan jenis, meski bicara pasti hanya satu dua kata yang penting. Apa aku harus memulainya?
            Kecerobohanku kemarin membuat ibuku marah. Aku mengaku salah, tapi ini pertama kalinya aku tak menjalankan perintah ibu. Ya, pertama kali setelah ayah meninggalkan kami. Sebandel apapun aku, aku tak pernah bisa membuat ibuku sedih, apalagi menangis. Dengan kejadian kemarin, aku telah melanggar janji akan mendahulukan kepentingan keluarga dari apapun. Dan, aku sangat menyesal. Namun jika aku tak melakukan hal senekat itu kemarin, aku juga tak akan pernah mengenal namanya. Nama yang selalu menghuni relung hati ini. Selamanya, insyaAllah.
            Sama seperti biasa, aku menemukannya di perpustakaan kampus. Aku semakin penasaran, kuambil tempat duduk bersebelahan dengannya. Kulihat wajahnya semakin ayu dari dekat, terpancar aura positif dan wajahnya bersinar tanpa polesan apapun. Masih natural. Tak seperti kebanyakan wanita saat ini. Tangannya memegang buku “La Tahzan” dan di sampingnya masih banyak lagi buku-buku tafsir karya Quraish Shihab. Aku terus memandangnya, sampai saatnya dia menatapku dan bertanya lembut,
            “Ada yang bisa saya bantu?”
Subhanallah, aku berharap ini bukan mimpi. Sulit rasanya untuk sekedar menjawab pertanyaan darinya. Perasaan ini kian bergejolak, namun aku harus tetap menjawabnya, harus.
            “o.oh, terimakasih mbak. Jurusan apa?”
Tanganku benar-benar seperti es, keringatku bercucuran padahal AC pun telah nyala.
            “IAT, maaf saya harus ke kelas dulu, assalamu’alaikum..”
            “Waalaikumsalam warohmatullah”
Kali ini, aku tahu mengapa dia selalu membawa mushaf dan mengkaji berbagai macam tafsir di perpustakaan. Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan tafsir. Mungkin itulah salah satu alasannya. Aku masih penasaran dengan gadis berwajah teduh itu, dimanakah dia tinggal? Makhluk se-ayu dia, akankah tempat tinggalnya di surga? Berkumpul bersama dengan bidadari? Ataukah hanya makhluk Tuhan biasa? Aku masih ingin tahu tentang siapa dia sebenarnya.
            Siang ini kucoba menunggunya di halte dekat kampus. Aku sudah mendapat izin ibu untuk pulang agak telat. Jadi, aku tak perlu khawatir lagi untuk tidak mengecewakan ibu seperti kemarin. Lama kutunggu dia, hingga akhirnya dia berjalan kearah halte dengan seorang temannya, entah siapa. Kelihatannya seorang teman itu sangat menghormati Syarifah, aku semakin penasaran dengannya. Kuputuskan untuk mengikutinya sampai depan rumah. Dan tak kusangka, dia adalah seorang syarifah, yang nasabnya sampai kepada silsilah Rasulullah. Ternyata aku salah, itu bukan nama asli gadis berwajah teduh. Yang aku tahu nama aslinya adalah Naina Faradisa Al-Hamid. Itu cukup menjadi bukti bahwa Al-hamid adalah marga yang langsung menyambung kepada silsilah Rasulullah.
            Setelah mengetahui nasab dan keluarganya, akupun tak bisa mendekatinya lagi. Mungkin semuanya akan mengatakan bahwa aku tak lebih dari seorang pemuda cemen, tak mau berjuang, dan entah apa lagi. Tapi yang jelas, aku punya alasan tersendiri. Mengapa seorang Ardi Rahmatullah tak berani mendekatinya lagi. Bahkan harus bisa melupakan sejarah hati yang telah tertancap pada nama indah itu. nama yang telah menggoreskan ukiran indah pada hati ini namun, harus dihapus kembali ukiran-ukiran kecil itu dengan penghapus yang bersih. Sama seperti hati ini, aku harus menghilangkan perasaan ini sebelum aku terlanjur mencintainya terlalu dalam.
            Aku tahu tak selamanya apa yang kita inginkan tercapai, Allah maha segalanya. “’Asa an takrohu syaian wa huwa khoiru lakum” begitulah firman-Nya dalam surat Al-Baqarah. Aku melepas dia, bukan karena intuisi perasaanku saja, tapi aku memikirkan keluarga dan nasabnya. Jika harus sampai terhenti pada Naina, maka nasab itu pun akan berubah dengan sendirinya. Aku tak seegois itu, aku mampu menahan cinta ini walau butuh waktu yang sangat lama.
            Dua tahun berlalu, perasaan ini pun masih sama. Masih saja tertuju dengan satu nama indah itu “Naina Faradisa Al-Hamid”. Nama yang bisa mengguncangkan jiwa saat memanggilnya, nama yang selalu membuatku tak nyaman ketika mendengarnya. Walaupun kau tak tahu isi hati ini sebenarnya. Aku telah jatuh cinta pada manusia mulia, tapi aku tak pantas dengan cinta ini. Aku cukup sadar, siapa diri ini. Hanya pemuda biasa. Tak mungkin aku mempertahankan keegoisanku untuk bisa mendapatkanmu. Semoga kau bahagia, Naina. Terimakasih, kau telah memberikan rasa yang luar biasa walau harus dibuang dengan cara yang menyakitkan. Kau, adalah bidadari surga yang dikirim Tuhan untukku, bukan untuk kumiliki, namun untuk menghadirkan rasa cinta di hati yang gersang ini. Selamat bahagia, Naina. Kau adalah wanita yang luar biasa yang pernah aku temui. Kau seelok bidadari surga.


Komentar