Perasaan yang Terpaksa Harus Dimusnahkan

Maafkan aku yang terpaksa menyakitimu
Maafkan aku, aku memang manusia bodoh dengan cinta yang bodoh. Bahkan aku tahu rasa kecewa dan bahagia itu seperti apa. Namun aku tak tahu rasanya dipaksa untuk mencinta seperti apa. Entahlah, seperti air mengalir atau malah seperti burung dalam sangkar. Bahagia atau menderita? Aku juga tak tahu.
Aku bingung harus memulainya dari mana. Tak sepantasnya aku mengirim pesan pendek untuk mengakhiri hubungan kita. Aku cukup tahu tentang etika. Pernah belajar di pondok pesantren dan madrasah aliyah, cukup mendorongku untuk menjadi manusia yang bisa menjaga perasaan orang lain. tapi, apakah keputusanku ini kelak akan menyakitkanmu?
Maafkan aku, Mas.
Jiwa raga, hati, pikir serta naluriku tak pernah sedikitpun berniat untuk hal sebodoh ini. Sebodoh aku yang tak bisa menolak perjodohan itu. pernah suatu saat aku mengirim pesan pendek kepadamu tentang rahasiaku yang belum kau ketahui. Dan kau membalasnya dengan tanggapan masalah perjodohan. Atau hal yang tak jauh dari konteks itu. itu memang benar, Mas. Tapi, lagi-lagi maafkan aku. Aku telah berbohong tentang itu semua. Rasanya belum saatnya kau mengetahui yang sesungguhnya. Dan, aku juga belum bisa membakar hidup-hidup perasaan ini untukmu, Mas.
Biar waktu yang akan menjawab semua. Entah kapan, kau pasti akan mengetahuinya. Aku hanya tak mampu berkata di depanmu. Jangankan di depanmu, mengetik pesan pendek untukmu saja aku tak berani. Aku memang bodoh, Mas. Aku tak mampu menolak hati yang lain. tapi yang perlu kau ketahui mas, aku bukan tipe wanita yang mudah mencintai dan melupakan. Sama sekali bukan seperti itu. kau ingat mas, saat pertama kali kita bertukar senyum lewat sms? Kau yang pertama kali mengajarkan aku tentang ilmu psikologi, meski hanya beberapa saja. kau pernah bilang, aku adalah tipe wanita HIJAU. Lalu, aku tanya kepadamu dengan sangat penasaran. “Apa itu warna Hijau, Mas?” berjiwa pemimpin. Hanya itu jawabanmu.
Aku ingat semua perkataanmu, Mas walau hanya lewat sms dan jarang bertatap muka. Namun bagiku, kau sangat luar biasa. Disaat semua orang menganggapmu sesat dan tak sependapat, aku hanya berpikir ini hanya sesaat. Bahkan aku sempat berkata pada diriku sendiri semua akan baik-baik saja. bagaimana tidak baik-baik saja? kau cukup tahu masalah agama, Mas. Nyantri di pondok pesantren yang berbeda tentu bisa diandalkan. Dan aku yakin, kau pasti punya alasan tersendiri.
Tak peduli bagaimana orang-orang memandangmu dengan jalan pemikiran yang berbeda, Mas. Aku tetap yakin bahwa kau akan baik-baik saja. kau akan tetap menjadi seorang santri yang ku kenal dulu. Bukan kenal sih, hanya saja tahu sedikit namamu saat nama-nama yang lain lebih lama mengantri untuk mendapatkanmu. Dulu aku hanya tahu sebatas nama saja tanpa rupa. Hingga Tuhan mempertemukan kita dalam forum yang sama sekali tak terduga. Aku sama sekali tak pernah berpikir akan mengenalmu lebih jauh dari sekedar ketua dan anggota. Apalagi sampai berpikir bahwa kau akan menjadi kekasih hati, Mas. Tidak sama sekali.
Terlalu banyak kenangan manis rasanya. Kau ingat Mas? Ketika kau meminta bertemu di masjid Bulu dan waktu itu aku baru saja memulai liburan. Aku masih ingat saat kau menyodorkan sebotol minuman mizone dan aku menolaknya dengan alasan puasa. Hehe. Sebenarnya waktu itu aku tak puasa, Mas. Aku hanya malu saja denganmu. Hingga pada akhirnya aku membuat alasan yang tak bisa lagi disangkal. Aku tahu juga waktu itu kau menungguku lebih lama, Mas. Kau tahu kenapa? Itu karena aku tak mau melihatmu pergi ke Semarang terlalu cepat. Hanya itu saja sih, tak ada alasan lain. sekali lagi, maafkan aku, Mas. Maafkan segala kebodohanku.
Mencintai bukan hanya sekedar rupa. Tapi yang kutahu, mencintai itu dengan hati tanpa pula seleksi. Seperti katamu dulu lewat sms bahwa istilah seleksi itu mencerminkan pemaksaan hati, untuk menerima dengan kriteria. Jika dasaran rasa adalah kriteria, maka itu adalah rasa yang manipulatif. Aku masih ingat betul ketika kamu mengirim sms itu, Mas. Tidak hanya itu, bahkan semua yang kau tulis pun aku simpan di draf. Aku ingin suatu saat nanti aku bisa merasakan masa-masa itu sama persis ketika kejadian itu berlangsung.
Kamu tahu Mas, tak pernah sedikitpun aku berpikir untuk mengakhiri hubungan ini. Saat jari-jari tanganku mulai mengetik di atas tuts laptopku, rasanya ada sedikit rasa yang sangat dalam. Aku tak tahu rasa apa itu hingga ia mampu membuat air mata ini meleleh begitu saja. mengalir deras, bahkan tulisan ini hanya mengalir begitu saja dari dalam hati. Hanya kamu yang bisa membuatku hidup dan bangkit dari masa lalu yang begitu menyakitkan, Mas.
Memang benar kata orang, bahwa cinta itu buta. Tak pernah memilih yang terbaik untuk bisa melekat pada hatinya. Namun, hakikatnya cinta itu adalah rasa. Rasa yang memang ada tanpa ada unsur paksa. Sama seperti air, ia mengalir begitu saja. aku juga heran dengan diriku sendiri. Sebenarnya apa yang aku kagumi dari kamu? Apalagi sampai mentransplantasikan hatiku untukmu? Kamu juga tak lebih dari kebanyakan orang umumnya, Mas. Kamu bahkan tidak seperti seorang yang kuidam-idamkan menjadi suamiku kelak. Ah, rasanya mumet. Hehe.
Aku masih ingat saat kita nongkrong berdua di rumah jus dekat indomaret, ada gelak tawa yang berbeda saat kita berdua memilih tempat yang sama. Aku bahkan waktu itu selalu melarangmu untuk terlalu sering menghisap barang pembawa candu itu. tapi sepertinya kamu memang tak bisa jauh-jauh dari barang itu, Mas. Katamu waktu itu “Udud is my live”. Aku bisa menghargai soal itu, tapi setidaknya kau tahu bahwa aku tak suka asap rokok. Kau tak ingat, sesekali kita membicarakan topik-topik remeh waktu itu, disaksikan banyak orang dan kendaraan yang berlalu lalang. Kau masih ingat juga kan, saat aku menjerit dan orang-orang memerhatikan kita sejenak? Lalu, apa kau bilang? Kau bilang aku malu-maluin. Hehe.
Kita memang tak benar-benar tahu satu sama lain. ada banyak hal yang kau tak tahu dariku dan begitu pula aku. Intinya kita sama-sama belum tahu menahu. Mungkin bisa dikatakan aku adalah wanita yang paling sabar menjalani hubungan denganmu, Mas. Bagaimana tidak? Kita sama sekali tak pernah berkomunikasi atau bertatap senyum walau hanya lewat sms. Aku juga tak berhak melarangmu dan menyuruhmu fokus berhubungan denganku. Aku sadar, bahwa kau memang seorang aktivis yang super, Mas. Namun, perlu kau ketahui bahwa tak ada yang bisa mengulang masa muda. Kesempatan hanya datang satu kali saja. sudah cukup aku sabar menahan rindu yang datang begitu saja saat malam datang, Mas. Dan hanya berharap hari esok tiba serta mendengar kabar keberadaanmu di Semarang. Bukankah hal semacam itu adalah hal yang sangat konyol, Mas? Bahkan aku juga tak tahu apakah kau juga banyak merindukanku sama seperti keadaanku sekarang ini. Aku masih ingat katamu dulu, bahwa tak mungkin kita merindukan seseorang yang belum tentu memiliki rindu kepada kita. Hanya buang-buang waktu saja kan?
Aku tak pernah tahu bagaimana tak memiliki cinta. Namun, memiliki cinta tak perlu diumbar kemana-kemana. Biarkan dia mengalir dengan sendirinya, seperti kemauanmu untuk tidak memposting hubungan ini dan selalu menutup-nutupinya. Cukup kita dan Tuhan yang tahu, tak perlu orang lain.
Rasanya sudah lama merindu tanpa ada kepastian. Sudah lama sekali. Kau mulai egois dengan waktu dan aktivitasmu. Apa mungkin kau juga lupa pernah berjanji untuk saling menjaga hati kita? Kau perlu tahu mas, bahwa sehebat-hebatnya wanita tentu punya lelaki yang sanggup mendampingi serta terus memberi motivasi untuk menjadi lebih baik lagi. Bukan ia yang hampir tak punya waktu untuk memberi satu pesan singkat saja. jujur, terasa sangat sakit sekali. Kau tak pernah sama sekali menganggapku orang yang spesial. Jangankan spesial, menganggapku sebagai adik atau orang yang kau kenal saja tidak. Lalu aku harus bagaimana? Harus dengan apa aku mengatakannya?
Mas, maafkan aku. Ternyata aku tak sehebat yang kau kira. Aku hanya wanita lemah yang mengaku sok kuat di hadapanmu. Kau mungkin faham apa yang kutuliskan saat ini. Karena waktu itu kau pernah bilang bahwa intinya kau mempersilahkan aku untuk meninggalkanmu. Kau memang hebat, sangat hebat sekali sehingga bisa-bisanya berkata seperti itu.
Kali ini, aku benar-benar meminta maaf untuk yang kesekian kali, Mas. Bahwa seperti kata pepatah, setiap ada pertemuan disitu ada perpisahan. Itu sudah sangat lazim kita dengar bahkan sampai berulang-ulang kali. Intinya, aku mengharapkan perpisahan saat ini. Perpisahan yang aku sendiri tak tahu kepastiannya.
Hanya saja, MAAF..


Sarang, 28 Feb 2016.

Komentar