TUHAN SELALU ADIL
Oleh:
Siti Afiah*
Jalanan
ini bagiku begitu memukau. Banyak anak-anak manusia yang mengorbankan dirinya
dari keramaian kota, berhura-hura, dan kemudian berproses menjadi manusia
mulia. Sungguh, ini pemandangan yang sebelumnya tak pernah kutemukan di kampung
halaman. Gumamku dalam hati.
“Coklat?”
kata Ana sambil menyodorkan sebatang coklat yang kusuka,silverqueen.
“Terimakasih,
An.” Kuterima coklat itu lalu kumakan sembari duduk di latar menikmati alunan
merdu Al-Qur’an.
“Semenjak
kehadiranku di desa ini sebagai mahasiswa magang, aku semakin yakin bahwa masih
banyak hal yang luar biasa di dunia ini. Aku memang terlahir dari keluarga non
muslim. Ayahku memiliki gereja terbesar di Yogyakarta sedangkan mamaku adalah seorang
bisnis women. Sejak kecil aku tak pernah mendengar lantunan merdu seperti yang
dilantunkan anak-anak kecil ini, An. Aku sangat menikmatinya. Sungguh.” Panjang
lebar kuceritakan siapa diriku sesungguhnya kepada Ana.
Ana
adalah warga kampung Sidohasri yang belum lama kami kenal, namun begitu akrab.
Sungguh, kehadirannya membuatku semakin semangat menjadi manusia yang lebih baik lagi.
“Aku
tak terlalu mengenal agama-agama lain, Pris. Sejak kecil aku hanya diajarkan
mengenal satu agama dan satu Tuhan. Agama Islam dan Allah sebagai penguasa
jagad raya nan agung. Di sini memang banyak sekali ritual keagamaan, termasuk
pengajian rutin setiap malam, Pris. Maaf kalau memang aktivitas kami
mengganggumu.” Ucap Ana sambil memegang pundakku. Matanya ingin sekali mengatakan
bahwa ia benar-benar minta maaf jika semua warga di desa ini tidak begitu klik
dengan kehadiran Priska.
“No
problem, An. Aku sungguh benar-benar bangga bisa bertemu denganmu, dengan warga
di kampung ini, dengan alunan merdu yang sungguh aku tak akan mampu
melukiskannya dengan kata-kata. Bagiku, ini adalah anugerah Tuhan yang
terindah. Its oke. Aku menikmatinya.” Berkali-kali aku meyakinkan Ana agar
membuang seluruh rasa sungkan dan tidak enak hati kepadaku.
Persimpangan
jalan, Sidohasri.
Malam
itu, aku menemukan wajah yang teduh. Wajah yang memancar indah di balik malam
yang pekat. Wajah yang begitu mengagumkan. Entah seperti apa rasanya, yang
jelas hati ini berdebar kencang. Berjuta rasanya.
“Assalamualaikum,
Ana. Hendak pergi kemana malam-malam begini?” pria berwajah teduh itu menyapa
Ana dengan ucapan santun dan senyum yang menyejukkan. Begitulah kiranya aku
mendiskripsikan dirinya, orang asing yang kukenal di persimpangan jalan.
“Waalaikumsalam,
kang Fatih. Ini mau mengantar tamu ke rumah pak kades. Ada keperluan
wawancara.” Ucap Ana dengan senyuman yang tersungging di bibirnya.
Waktu
itu kami hanya sempat bertatap muka dan sedikit senyum tanpa berkenalan satu
sama lain. namun aku yakin, bahwa pria berwajah teduh itu, Fatih adalah pria
yang baik dan santun. Hanya insting saja sih. hehe
“Masih
jauh An, rumah pak Kades?” aku memulai berbincang ringan dengan Ana.
“Sebentar
lagi, Pris. Memang jalannya seperti ini, agak jelek, bolong-bolong juga. Hehe”
Ucap Ana sedikit bergurau.
“Hehe.
Iya,An. Mungkin pemerintah sedang tertidur, makanya tidak terlalu tahu jalan
yang seharusnya diperbaiki dan tidak.” Celetukku.
“Hahaha..”
sejenak, kami pun tertawa renyah bersama.
***
Aku
mulai merasakan kenyamanan yang luar biasa di desa ini, bersama Ana, kang Fatih
dan warga yang lain. meski tak selamanya lurus dengan apa yang sebelumnya
kugambarkan. Banyak hal-hal di luar dugaan dan berbanding jauh dalam kenyataan.
“Selamat
pagi, mbak Ana Fatmia..” sapaku di pagi hari dengan sedikit mengganggunya.
“Pagi
cah ayu.. sudah bangun kamu, Pris?”
“Sudah
dong.. agenda hari ini kamu engga lupa kan?” kataku sembari mengingatkan Ana.
“Iya,
cah ayu. Ndak lupa kok. Nanti kita ke rumah orang tuanya kang Fatih aja, mereka
tokoh masyarakat yang paling disegani di kampung ini.”
“Siap
komandan.”
Kamipun
mengakhiri percakapan pagi itu dengan tertawa bersama. Ada rasa yang kurang
wajar saat Ana mengatakan akan berkunjung ke rumah kang Fatih pagi ini. Itu
berarti, aku akan melakukan wawancara dengan orangtuanya. Orangtua dari seorang
yang diam-diam kukagumi. Sungguh, ini belumlah saatnya. Aku harus bisa menahan
rasa yang belum pasti namun selalu mengukir dan menggerogoti hati.
Rumah
kang Fatih
“Loh,
nak Ana.. ada perlu apa singgah kesini?”
Dengan
antusias, seorang wanita paruh baya yang diduga adalah ibu kang Fatih itu
bertanya. Wajahnya sangat teduh, tidak heran jika melahirkan tunas bangsa
berwajah teduh pula.
“Oh,
iya buk. Ini saya mengantar teman saya. Ingin sedikit berwawancara dengan ibuk
dan bapak. Kalau sekiranya hari ini ada waktu, kami mohon kesediaannya ya buk.”
Ana dengan sangat sopan mengutarakan maksud kedatangan kami. Itu adalah salah satu
ciri khas Ana. Lembut dan sopan. Jarang sekali wanita seperti Ana kutemui di
Semarang.
Keluarga
kang Fatih dengan senang hati menerima dan menjawab semua pertanyaan-pertanyaan
yang kulontarkan. Mereka juga sangat menghormatiku sebagai kristiani. Selain itu, mereka juga bertanya tentang
keseharianku di Semarang. Tentu sebagai pribadi yang berbeda keyakinan, aku
agak merasa sungkan. Apalagi kalau sampai bapak ibuk kang Fatih tahu keluargaku
mempunyai gereja terbesar di Semarang. Sungguh, bukan apa-apa. Aku hanya belum
siap saja. lebih tepatnya karena memang tidak ingin ada yang tahu tentang
kehidupanku sebenarnya.
Aku
menemukan senyum indah di bibir pemuda penuh taat itu. dengan penutup kepala
yang digunakan sehari-hari, kang Fatih nampak lebih gagah. Seperti yang
dikatakan oleh Ana beberapa hari yang lalu, bahwa kang Fatih tidak pernah
melepas penutup kepala itu. mereka menyebutnya sebagai songkok/kopiah.[1]
Aku banyak belajar tentang Islam. Semenjak kedekatanku dengan Ana, aku
diam-diam mulai mengagumi keyakinan yang sebelumnya tak pernah aku bayangkan
seindah ini.
“Selamat
pagi, Priska.” Sapaan hangat itu mulai terlontar dari bibir kang Fatih.
Membuyarkan lamunanku tentang apa-apa yang hendak kurancang sempurna. Hampir
sempurna, karena pada hakikatnya tak ada sesuatu apapun di muka bumi ini yang
sempurna.
“Eh..
Pagi, kang.” Jawabku dengan gugup.
Dari
situ, kami mulai berbicara banyak, ngobrol ringan tentang kegiatan kuliahku,
dan sedikit bercanda lewat ucapan-ucapan nyleneh dari kang Fatih. Dan,
saat itu pula aku mulai peka dengan tatapan mata yang seolah-olah membuatku
jatuh pingsan tak berdaya. Tatapan mata yang seolah-olah menghancurkan denyut
nadi dan menyumbat aliran darahku. Ya, tatapan mata itu (?)
***
Tuhan, salahkah aku
mencintainya seperti mencintai hujan?
Mencintai rinai angin
Mencintai balutan semilir
angin
Mencintai rumput-rumput
liar sepanjang jalan
Mencintai samudra luas
dengan gelombang ombak mendamaikan
Salahkah?
Yang kutahu, mereka
sama-sama ciptaan-Mu
Lantas, apakah salah
dengan rasa ini? [MF]
Tak
sengaja aku membaca buku yang terserak di meja belajar Ana. Ada sedikit
keganjalan saat menemukan kata terakhir yang terselip diantara tanda kurung.
MF? Apa maksud dari MF? Seribu pertanyaan muncul di kepalaku. Merasa ingin tahu
siapa dan apa maksud inisial itu. namun, kulangkahkan kakiku menjauh dari meja
belajarnya. Rasanya lancang jika harus membacanya tanpa sepengetahuan
pemiliknya. Aku cukup tahu tentang hal yang milikku dan bukan. Entahlah.
***
Jauh
hari setelah membaca tulisan Ana yang terserak di meja belajarnya, aku mulai
faham sedikit demi sedikit. Aku mulai faham siapa inisial itu. MF adalah
inisial dari nama seorang lelaki yang kukagumi. Bahkan sepertinya, bukan hanya
aku saja yang mengaguminya, semua gadis pun akan terlena bahagia dengan senyum
simpul, berdebar hatinya. Aku yakin. Benar-benar yakin.
Malam
itu, sebelum mendengar ulang hasil wawancaraku dengan pak Hadi, bapak kang
Fatih, telingaku tanpa sadar telah banyak mendengar perbincangan dua keluarga
besar terkait perjodohan yang katanya, telah lama disetujui. Sontak tubuh,
batin, dan semua rongga pernafasanku dipenuhi asap yang begitu mengepul. Susah
bernafas. Rasanya seperti tidak ada lagi kehidupan baru yang penuh warna.
Semuanya pekat, gelap, hitam tak ada lagi senyuman.
“Pris,
sore-sore ngelamun. Ada apa cah ayu?” Ana menghampiriku dengan menyodorkan teh
hangat buatannya sendiri.
Andai
kau tahu perasaanku saat ini, An. Aku sangat tersiksa dengan perasaan ini.
“Kenapa
apanya, wong lagi menyusun strategi buat penelitian lagi kok.” Aku berusaha
menetralkan seluruh perasaan ini di hadapan Ana. Kuambil segelas teh dan
kuteguk perlahan.
Seperti
layaknya wanita lain, aku sangat pintar dalam urusan menyembunyikan perasaan.
Memang begitulah wanita, ia selalu saja bertikai dengan hati dan perasaannya
sendiri. Menyembunyikan sama saja dengan menganggap semuanya aman. Padahal,
semakin lama disembunyikan, ia semakin tak karuan.
Dua
hari sebelum kepulanganku ke Semarang, Ana sempat memberitahuku tentang
hubungannya dengan kang Fatih. Hubungan yang kemudian akan berlangsung ke akad
pernikahan. Hubungan dua keluarga dengan satu agama yang mendamaikan. Biarlah
hanya perasaan ini yang tahu bahwa hati ini juga menyimpan rasa yang begitu
dalam kepada kang Fatih. Biarlah, Tuhan maha Adil.
Malam
terakhir di Sidohasri
Aku
semakin tergerak untuk segera meninggalkan desa ini. Desa dengan adat dan
suasana yang menenangkan. Meski aku harus rela berpisah dan meninggalkan lara
ini kepada sahabat terbaikku selama di Sidohasri.
Ana,
maukah kau memaafkan hati ini?
Satu
hal yang kuyakini dalam hidup ini, bahwa setiap ada pertemuan pasti akan
menyisakan kenangan. Kenangan yang bahkan telah mampu menghapus
kenangan-kenangan lain yang telah lama bersemayam di memori hati ini. Kenangan
yang kemudian menyisakan tangisan perih. Tangisan yang tak bisa terelakkan.
Malam
ini, aku menulis sedikit ucapan terimakasih dan maaf kepada Ana. Sengaja aku
menyampaikannya lewat tulisan meski pada akhirnya aku juga akan berpamitan
dengan semuanya. akan ada banyak kenangan yang tersisa di sini. ya, di desa
ini.
Malam,
Ana.
Dengan
datangnya surat ini, semoga kau bersama keluarga senantiasa sehat. Selamat ya,
atas pertunanganmu dengan kang Fatih. Aku turut bahagia. Sungguh, tak bisa
kulukiskan kebahagiaan ini. Apakah harus dengan tersenyum? Tertawa? Atau malah
menangis? Entahlah An. Nanti di baris selanjutnya kau akan tahu sendiri
bagaimana aku melukiskan kebahagiaan ini. J
An,
aku bingung mau memulainya dari mana. Yang jelas, aku sangat berterimakasih
karena kamu telah memperkenalkan aku dengan lelaki yang tak pernah kujumpai
sebelumnya. Sosoknya mampu menginspirasi setiap detik dan desah nafasku.
Terimakasih, An.
Kau
adalah Muslimah terbaik yang pernah ku kenal, An. Dulu, aku pernah berkenalan
dengan orang Islam. Namanya Raiyya. Orangnya baik sih, tapi agak kaku dalam
urusan yang lain. hehe.. tak perlu kuucapkan mungkin ya. Aku mengenalmu lebih
dari teman, An. Aku bahkan telah menganggapmu sebagai saudaraku sendiri. Tapi,
bagaimana mungkin kau menerima aku sebagai saudaramu? Bukankah kau hanya
menganggap saudara mereka yang berkeyakinan sama denganmu? Entahlah, An. Meski
begitu, aku akan selalu menganggapmu saudaraku.
An,
aku mencintai kang Fatih. Mungkin ini menyakitkan bagimu. Tapi apakah kau juga
tahu apa yang kini kurasakan? Mendengar berita pertunanganmu kemaren, hati dan
pikirku tak bisa lagi pulih seperti biasa, An. Ia lumpuh seketika. Tersambar
petir dan terguyur hujan begitu lama. Ia terluka An. Tapi, kau tak perlu
khawatir. Aku sudah merelakannya untukmu, An. (berterimakasih dong, hehe)
Bukan
apa-apa aku memberitahumu tentang semua ini,An. Aku hanya ingin kau tahu bahwa
kita sempat punya perasaan yang sama. Namun, endingnya akan tetap berbeda.
Jalani semuanya dengan baik, An. Semoga kalian bahagia. Aku selalu mendoakan
yang terbaik untuk kalian.
Priska.
Segera
kuletakkan surat itu di atas meja belajar Ana. Ini menjadi hari yang begitu
spesial dalam hidupku. Menikmati indahnya cinta dari Tuhan tanpa harus memiliki
seutuhnya. Aku hanya butuh cara agar aku bisa menemukan sesosok lelaki seperti
kang Fatih. Dan sekali lagi, aku cukup bahagia bisa mengenal Islam. Seperti
yang sering kudengar dari Ana, Tuhan memang selalu Adil.
*Penulis adalah Mahasiswa aktif STAI Al-Anwar, Sarang,
Rembang.
Komentar
Posting Komentar