TAK LAGI MAMPU BICARA (?)


Aku ingat, 2 tahun yang lalu adalah hari yang bersejarah dalam hidupku. Entah bagaimanapun, sebuah kenangan akan selamanya bercampur dan mengalir seperti halnya air. Jika kita mampu mengubah kenangan menjadi manis, semua masa depan pun akan terlihat manis. Begitupun sebaliknya.
Ada saat dimana seseorang merasakan dilema yang berkepanjangan serta galau yang jadi antrian setiap malam. Memikirkan ini itu tentu membuat pikiran melayang serta pusing ringan akibat melawan kenyataan.
Memilikimu mungkin adalah hal terindah, seperti halnya memiliki barang langka yang bisa dilelang hingga ratusan atau bahkan milyaran rupiah. Dirimu bahkan tak mampu kulukiskan walau hanya lewat sajak tulisan. Namun ketahuilah, rasa yang telah kita pupuk hingga saat ini akan menjadi saksi bahwa cinta tak hanya berujung pada profesi. Seperti katamu waktu itu bahwa kau ingin memiliki pendamping hidup yang selalu berada di belakangmu, menjadi partner hidup dan menemani disaat suka maupun disaat kesedihan melanda. Aku sempat berfikir, “Apakah kiranya aku mampu menjadi sesosok yang kamu inginkan?” Duhai... lagi-lagi fikir dan naluri bertarung, mempertaruhkan hal yang sulit untuk ditafsirkan.
Aku menemukan hal yang beda setelah kita mulai beradu pikir, berdiskusi ringan walau menguras pikiran. Oh, mungkin bukan sesuatu yang beda. tapi lebih tepatnya jika kukatakan bahwa aku memang belum tahu menahu tentang dirimu yang sesungguhnya. mana mungkin tahu, jika komunikasi ringan saja tak mampu dilakukan? Apalagi komunikasi intens yang membahas seputar masa depan? Bullshit.
Mungkin bagimu aku tak lebih berharga dari sebuah organisasi yang kau jalankan sekarang. Entahlah, apapun pikiranmu, yang jelas aku tak mampu menerka-nerka. Kecintaanmu tak pernah mampu kutafsirkan seperti halnya penafsiran al-Thabari terhadap al-Qur’an atau penafsiran amina wadud tentang perempuan. Sungguh, waktu itu kamu adalah harta berharga bagiku. Dan mungkin juga saat ini (?)
Benar kata orang, cinta yang tak pernah dipupuk, ia akan lengser dan hilang seperti debu yang bertebaran. Kesana-kemari tak beraturan. Sama seperti hatiku saat ini. Setelah sekian lama tak bertukar senyum walau hanya via sms, tak pernah sedikitpun menyapa saat bertemu di wall facebook, dan ironisnya... kamu tak pernah mau tahu tentangku. Ah, mungkin aku terlalu lebay.
Lama kucoba ikhlas dengan semua ini, lama sekali. Dan itu tak wajar. Seharusnya kamu tahu apa dan bagaimana yang kurasakan. Bukan hanya aku yang mengerti keadaanmu saat ini. Bukan hanya aku yang harus selalu menunggu namun tak berbuah hasil.
Aku lelah.
Aku jenuh.
Aku yakin, kita sama-sama ingin yang terbaik buat masa depan kita. Masa depan yang sudah kita impikan di masa kecil. Kita harus bisa berbenah, menjadikan hal ini sebagai evaluasi ke depan. Menjadi yang lebih baik lagi.
Terimakasih, sudah menanamkan kesetiaan selama ini. Tapi yang kuinginkan bukan hanya sekedar kesetiaan. Aku ingin ia dibalut dengan kejujuran dan kasih sayang. Jika kesetiaan yang selama ini kita terapkan tak dibumbui dengan kejujuran dan kasih sayang, maka maafkan diri ini yang tak mampu bicara lagi.
كيف أراك وأنت بعيد مني #
وكيف أنسك وأنت في القلبي

“Bagaimana mungkin aku melihatmu, sedangkan engkau jauh dariku” # Dan bagaimana pula aku melupakanmu, sedangkan engkau ada di hatiku”.

16 oktober 2016

Komentar