RINDU DARI SEBERANG
Oleh: Siti
Afiah
Keindahan
yang dihasilkan pelangi itu hanya sementara. Sama halnya seperti keindahan yang
diciptakan hanya untuk bersandiwara. Bepura-pura tersenyum meski hati terasa sakit
dan lara. Namaku faila. Lebih tepatnya Failasufa. Aku anak seorang doktor
dengan jabatan tertinggi di salah satu universitas. Ayahku adalah orang yang sangat
disegani siapa saja, apapun yang ia lakukan selalu saja membuat masyarakat
tercengang dan mengaguminya. Ayahku selalu bersikap sopan kepada siapapun.
Termasuk kepada seorang pengemis di jalanan. Aku pernah melihatnya waktu itu
saat berangkat sekolah, berpapasan dengannya saat ayah mencoba memberi sepotong
roti seorang pengemis berbaju lusuh itu.
Ayahku
adalah seorang yang mengagumkan. Aku pun bangga mempunyai ayah sebaik dan
segagah dia. Siapapun orangnya pasti sangat mengharapkan ayah seperti dia. Namun,
semenjak dua bulan terakhir ini aku sering menemui ayah bukan seperti ayah yang
ku kenal. Sejak lahir hingga usiaku kini 18 tahun, ayah tak pernah sama sekali
memaksaku dalam hal apapun, apalagi memaksaku memilih soal rasa dan tanggung
jawabku kelak. Ayah memaksaku untuk mengikuti semua jejak pendidikannya. Salah
satunya adalah kuliah dengan jurusan filsafat. Aku tahu, mungkin ayah
menginginkan seorang anak yang kelak akan meneruskan jabatan dan warisan
filsafat yang hebat. Menginginkan pekerjaan yang layak dan hidup dalam naungan
keseganan masyarakat. Tapi setahuku, filsafat bukanlah jurusan sehebat yang
ayah katakan. Aku selalu saja menolak permintaan ayah untuk masuk jurusan super
ribet itu. Dari dulu aku selalu mengatakan kepada ayah bahwa aku suka dengan
dunia anak. Anak-anak kecil selalu menggembirakan. Waktu itu saat usiaku masih
15 tahun, aku berkata pada ayah saat melewati yayasan sosial di jalan Mawar.
“Yah, dunia
anak itu menyenangkan sekali ya, tanpa beban.”
“ya.”
Ayah selalu
saja merespon dengan jawaban datar. Tak ada kata yang menyenangkan sama sekali
untuk didengar. Tapi, yang kuingat waktu itu adalah ayah mengizinkan aku untuk
terjun ke dunia anak. Ia memperbolehkanku ikut seleksi sukarelawan di yayasan
sosial itu.
***
Bermula dari
sukarelawan. Aku telah banyak sekali
belajar. Belajar tentang kehidupan dan dunia anak yang perlu diperhatikan. Aku
mulai mengerti banyak hal. Dan itu sangat menyenangkan. Berkumpul dan bermain
bersama anak-anak meski terkadang banyak hal yang menjengkelkan. Namun,
keberadaanku di yayasan sosial itu tidak berlangsung lama. Ayahku menginginkan
aku fokus dengan ujian akhir sekolah dan dilanjut dengan ujian masuk perguruan
tinggi.
Tidak banyak
yang diharapkan dari ujian masuk universitas ternama. Ya, bagaimana mungkin aku
mengharapkan sesuatu yang sama sekali aku pun tak suka dengannya. Ayahku memang
bukan ayah yang baik. Kini kukatakan demikian, karena ayah selalu memikirkan
ego dan kepentingannya sendiri. Tak pernah sedetik pun memandang kenyamanan dan
keinginan yang aku impikan.
“Faila,
tolong ambilkan ayah minum di kulkas, ayah lagi sibuk.”
Aku tahu,
bagi ayah kerjaan dan jabatan adalah dua hal yang sangat penting bagi
kehidupannya. Sebenarnya aku tak ingin ayah terlalu larut dengan
tulisan-tulisan rempong yang kemudian dijadikannya sebagai buku pedoman bagi
mahasiswanya. Setidaknya kesehatannya adalah jauh lebih penting dibanding
apapun. Tapi sayang, ayah tak pernah menyadari hal itu. selalu dengan target
yang bisa melupakan apapun.
“Ini yah.”
Kusodorkan segelas air putih ke meja kerja ayah. Sebelum kuberanjak pergi
meninggalkan ruangan 4x4 itu, ayah memanggilku perlahan.
“Bagaimana
dengan persiapanmu kuliah?” nada bicaranya rendah, seolah pertanyaan itu hanya
basa-basi semata.
“Lumayan.
Baru 30%.”
“Jangan lupa
pelajari apa yang ayah tulis di emailmu kemarin. Itu penting.”
“Iya.” Ku
langkahkan kakiku keluar dari ruangan sempit penuh buku berserakan itu. aku
hanya bisa menuruti semua yang ayah katakan tanpa bisa menyela ataupun
membantah sekaligus.
Langkahku
gontai. Kuputuskan malam itu untuk segera tidur dan melupakan apapun yang
terjadi hari ini. Namun, sebelum masuk kamar, mataku tergoda untuk melihat
sebuah lukisan indah yang tak pernah kulihat sebelumnya. Gambar wanita cantik
dengan topi bulu dan rambut yang terurai panjang. Seperti orang Belanda. Cantik
sekali, gumamku dalam hati. Kudekati lukisan besar itu kemudian kubaca tulisan
di pojok bawah “ Dank u”. Aku tahu itu adalah bahasa Belanda. Ya meski
aku tak pernah mempelajarinya, setidaknya aku bisa mengerti secara otodidak
melalui beberapa novel dan buku-buku pengetahuan lain.
Ah, mungkin
itu teman ayah saat kuliah di Belanda. Gumamku
Aku pun tak
ingin memikirkan lebih lanjut tentang lukisan itu. segera kuberanjak naik dan
masuk ke dalam kamar. Merebahkan badan, menghilangkan kepenatan, sejenak
terlelap dengan alunan nada bimbang. Haruskah aku melangkah dengan jalan yang
dipilih ayah? Atau justru melangkah dengan jalanku sendiri?
***
Seminggu
setelah ujian masuk perguruan tinggi selesai, hasil dan pengumuman pun keluar. sama
seperti prediksi ayah sebelumnya, aku masuk di salah satu perguruan tinggi
Negeri yang masyhur. Terletak di jantung kota dan menjadi universitas favorit
dengan berbagai macam prestasi yang telah diraihnya.
Malam hari
setelah kuberitahu tentang hasil pengumuman itu, ayah pun melangsungkan acara
tasyakuran bersama dengan staf dan temannya di rumah. aku melihat wajah ayah
yang sangat bahagia sekaligus bangga mempuyai anak yang bisa kuliah sesuai
dengan harapannya. Setidaknya aku mampu memberikan senyum dan kebahagiaan
kepada ayah.
“Faila,
selamat ya. Semoga awal kuliahmu lancar dan tentunya bisa jadi master of
philosophy seperti ayahmu. hehe” Ucap salah satu rekan ayah.
“Iya om,
terimakasih.” Walaupun sebenarnya aku tak begitu suka dengan kalimat itu, tak
apa semuanya akan baik-baik saja. everything will be oke.
Aku terlalu malas
mengikuti acara makan-makan bersama dengan ayah dan temannya. Mungkin karena
aku tak tertarik dengan apa yang mereka bahas. Tapi ada satu pembahasan yang
menarik bagiku. Ya, aku mendengarnya dari sela-sela almari di salah satu sudut
ruangan itu.
“Ada rencana
menikah lagi nggak setelah anaknya sudah menjadi mahasiswa filsafat?” canda om
Herman, salah satu staf ayah di kampus.
“Halah.”
Tampak wajah ayah biasa-biasa saja menanggapi hujanan pertanyaan dari
rekan-rekannya.
“Lha
mamahnya Faila, gimana pak? Masih di Belanda?”
Mama?
Belanda?
Aku tak
mengerti apa yang mereka bicarakan saat itu. selama ini yang kutahu mama sudah
meninggal dan wajahnya pun sama sekali aku tak tahu karena kata ayah mama tak
pernah mau diajak foto. Meski itu adalah foto pernikahan. Lalu, apakah ini ada
sangkut pautnya dengan wanita di lukisan itu? entahlah.
Lama
kupikirkan ini sendirian. Namun, sejarah bukan soal logika seperti halnya
filsafat. Ia adalah realita yang terpendam, harus terungkap. Saat itu juga
kukirim sms kepada ayah untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Namun,
lama sekali kutunggu tak ada jawaban atas pertanyaanku. Kuputuskan untuk
bertanya saat ayah pulang dari kantor.
Ternyata apa
yang aku anggap telah tiada selama ini hanyalah palsu, rekayasa. Aku fikir ayah
berkata jujur tentang sosok mama. Sosok yang selalu menginspirasiku untuk
menjadi lebih baik lagi serta sosok yang membuatku patuh kepada ayah. Semua
adalah dongeng. Dongeng yang kenyataannya bahkan lebih menyakitkan.
Setelah
semuanya terjadi, kenyataan yang pahit untuk benar-benar dirasakan. Aku dan
ayah hidup dalam kobaran rindu yang membara. Bukan, bukan ayah sebenarnya. Tapi
aku. Seorang putri yang bodoh yang mau dibohongi oleh ayahnya sendiri.
***
Mama memang
sosok wanita yang luar biasa. Meski baru sekali ini aku bertemu dengannya, aku
mampu menilai bahwa dia bukanlah wanita sembarangan. Dia wanita yang luar
biasa. Hari ini sunguh istimewa. Hari kelulusan ditemani dengan orang yang
selama ini kurindukan.
“Dank u
mama”
Tanpa
mengucap sepatah kata pun, mama langsung memelukku erat, erat sekali. Kini aku
merasakan betapa hangat dan nyaman pelukan seorang mama. Mungkin, aku adalah
wisudawati terbahagia di dunia saat ini.
Sekarang aku
bisa mengerti dengan semua yang ayah lakukan untukku. Kami juga mulai
menanamkan cinta satu sama lain untuk memulai dan mencoba yang lebih baik lagi.
Terimakasih, ayah dan mama
Suatu saat
nanti, semua kebaikan, canda dan tawa akan berubah menjadi sebuah kenangan yang
nyata. Kenangan kebahagiaan yang senantiasa terukir dalam jiwa.
Kenduruan,
16 Agust. 16
Komentar
Posting Komentar