Postingan

ISTIKHARAH ABAH YAI

Terkadang rasa ketidakadilan manusia akan Tuhan-Nya muncul disaat dua hati yang sama-sama mencinta namun tidak mampu disatu padukan. Sama halnya seperti Kinasih, seorang santri yang diam-diam menyukai gus nya sejak awal ia memasuki gerbang pesantren. Terlihat konyol memang, cinta pada pandangan pertama yang kemudian menjelma sebagai cinta buta layaknya Majnun dan Laila. Kinasih adalah salah satu santri di pondok pesantren Darul Qur’an, pesantren yang baru saja didirikan kurang lebih tiga tahun. Meski pesantren ini tergolong masih muda, tapi pesantren ini merupakan satu-satunya pesantren yang mengajarkan serta membimbing para santri untuk mendalami ilmu al-Qur’an dan menghafalkannya. Salah satunya adalah Kinasih. Kinasih sudah dua tahun ini tinggal di pesantren Darul Qur’an sejak didirikannya pesantren tersebut. Ia merupakan santri yang luar biasa tekun dalam menghafal kalam-Nya. Meski terhitung muda diantara para santri lainnya, Kinasih telah berhasil menghafal tiga juz dalam waktu du...

(0:29 WIB)

Malam ini seperti malam biasa, hanya berkutat pada tulisan-tulisan yang rasanya ingin menerkam setiap persendian hati dan otak, naluri dan pikir. Tetap setia berada di atas tuts laptop menjadikan keinginan ku untuk kembali menggambarkan indahnya kota Sarang, kota dengan seribu impian dan harapan. (lebih dari itu, aku tak mampu untuk melukiskan keindahannya) Oke, apa kabar Sarang dini hari? Sudah empat tahun terakhir, yang kurasakan hanya langit Sarang yang panas, debu jalanan yang tak pernah habis, serta deburan ombak yang senantiasa mengiringi candaan kita di sore itu. sungguh syahdu, apalagi kita sibuk menghitung dan mengenali bus antar kota dengan ke-khasan nya. Itu mengasyikkan, kawan. Tapi, samakah yang kurasakan pada dini hari ini? Saat mata telah terlelap dan hanya pejuang skripsi yang masih terjaga? Ini lebih mengasyikkan lagi. Karena saat ini hanya ada aku dan impian besarku. Aku mungkin terlalu melankolis dalam menuliskan sesuatu, dalam hal menggambarkan apapun i...

MENGINGATMU HANYA AKAN MEMBUANG WAKTU

Oleh: Jinan Avia Kau tahu? Berapa banyak rindu yang kau kirim sejak perpisahan kita tahun lalu? Kau tahu? Berapa banyak luka yang kau torehkan hingga sedikit demi sedikit rasa ini pudar? Kau tahu? Aku adalah wanita bodoh dengan cinta yang bodoh. sudahkah kau mengucap istighfar tanda percaya? Mengingatmu hanya akan membuang waktu. Kau tahu kan? Aku cukup sibuk dengan duniaku saat ini. Sudah, tolong hapuskan bayang-bayang masa lalu itu. gantikan dengan secercah harapan indah di masa datang. Haruskah ku melawan arus tanda godaan melayang? Atau haruskah ku berdiam tanda tak mampu melawan? Kau ingat? Bahwa kenangan kita adalah seputar hujan? Hujan di malam yang sunyi dengan petir yang menyambar dahsyat. Aduhaii.. Kau ingat? Katamu dulu, hujan adalah fenomena yang paling mengasyikkan. Fenomena Tuhan yang paling indah disyukuri. Sepertinya kita sedang mempraktikkan cerita konyol Abu Nawas tentang hujan. Bahwa hujan adalah rahmad Tuhan yang bahkan tidak boleh kaki kita menginjak-i...

TAK LAGI MAMPU BICARA (?)

Aku ingat, 2 tahun yang lalu adalah hari yang bersejarah dalam hidupku. Entah bagaimanapun, sebuah kenangan akan selamanya bercampur dan mengalir seperti halnya air. Jika kita mampu mengubah kenangan menjadi manis, semua masa depan pun akan terlihat manis. Begitupun sebaliknya. Ada saat dimana seseorang merasakan dilema yang berkepanjangan serta galau yang jadi antrian setiap malam. Memikirkan ini itu tentu membuat pikiran melayang serta pusing ringan akibat melawan kenyataan. Memilikimu mungkin adalah hal terindah, seperti halnya memiliki barang langka yang bisa dilelang hingga ratusan atau bahkan milyaran rupiah. Dirimu bahkan tak mampu kulukiskan walau hanya lewat sajak tulisan. Namun ketahuilah, rasa yang telah kita pupuk hingga saat ini akan menjadi saksi bahwa cinta tak hanya berujung pada profesi. Seperti katamu waktu itu bahwa kau ingin memiliki pendamping hidup yang selalu berada di belakangmu, menjadi partner hidup dan menemani disaat suka maupun disaat kesedihan melan...

RINDU DARI SEBERANG

Oleh: Siti Afiah Keindahan yang dihasilkan pelangi itu hanya sementara. Sama halnya seperti keindahan yang diciptakan hanya untuk bersandiwara. Bepura-pura tersenyum meski hati terasa sakit dan lara. Namaku faila. Lebih tepatnya Failasufa. Aku anak seorang doktor dengan jabatan tertinggi di salah satu universitas. Ayahku adalah orang yang sangat disegani siapa saja, apapun yang ia lakukan selalu saja membuat masyarakat tercengang dan mengaguminya. Ayahku selalu bersikap sopan kepada siapapun. Termasuk kepada seorang pengemis di jalanan. Aku pernah melihatnya waktu itu saat berangkat sekolah, berpapasan dengannya saat ayah mencoba memberi sepotong roti  seorang pengemis berbaju lusuh itu. Ayahku adalah seorang yang mengagumkan. Aku pun bangga mempunyai ayah sebaik dan segagah dia. Siapapun orangnya pasti sangat mengharapkan ayah seperti dia. Namun, semenjak dua bulan terakhir ini aku sering menemui ayah bukan seperti ayah yang ku kenal. Sejak lahir hingga usiaku kini 18 tahun...

TUHAN SELALU ADIL

Oleh: Siti Afiah* Jalanan ini bagiku begitu memukau. Banyak anak-anak manusia yang mengorbankan dirinya dari keramaian kota, berhura-hura, dan kemudian berproses menjadi manusia mulia. Sungguh, ini pemandangan yang sebelumnya tak pernah kutemukan di kampung halaman. Gumamku dalam hati. “Coklat?” kata Ana sambil menyodorkan sebatang coklat yang kusuka,silverqueen. “Terimakasih, An.” Kuterima coklat itu lalu kumakan sembari duduk di latar menikmati alunan merdu Al-Qur’an. “Semenjak kehadiranku di desa ini sebagai mahasiswa magang, aku semakin yakin bahwa masih banyak hal yang luar biasa di dunia ini. Aku memang terlahir dari keluarga non muslim. Ayahku memiliki gereja terbesar di Yogyakarta sedangkan mamaku adalah seorang bisnis women. Sejak kecil aku tak pernah mendengar lantunan merdu seperti yang dilantunkan anak-anak kecil ini, An. Aku sangat menikmatinya. Sungguh.” Panjang lebar kuceritakan siapa diriku sesungguhnya kepada Ana. Ana adalah warga kampung Sidohasri yang be...