ISTIKHARAH ABAH YAI


Terkadang rasa ketidakadilan manusia akan Tuhan-Nya muncul disaat dua hati yang sama-sama mencinta namun tidak mampu disatu padukan. Sama halnya seperti Kinasih, seorang santri yang diam-diam menyukai gus nya sejak awal ia memasuki gerbang pesantren. Terlihat konyol memang, cinta pada pandangan pertama yang kemudian menjelma sebagai cinta buta layaknya Majnun dan Laila. Kinasih adalah salah satu santri di pondok pesantren Darul Qur’an, pesantren yang baru saja didirikan kurang lebih tiga tahun. Meski pesantren ini tergolong masih muda, tapi pesantren ini merupakan satu-satunya pesantren yang mengajarkan serta membimbing para santri untuk mendalami ilmu al-Qur’an dan menghafalkannya. Salah satunya adalah Kinasih. Kinasih sudah dua tahun ini tinggal di pesantren Darul Qur’an sejak didirikannya pesantren tersebut. Ia merupakan santri yang luar biasa tekun dalam menghafal kalam-Nya. Meski terhitung muda diantara para santri lainnya, Kinasih telah berhasil menghafal tiga juz dalam waktu dua bulan.
Pagi hari, saat semua santri sedang asyik menjalankan ro’an, tiba-tiba ada pengumuman yang nyaring di telinga semua santri bahwa sore ini akan kedatangan tamu agung di pesantren Darul Qur’an. Sontak semua santri merasa penasaran akan berita ini. Siapakah yang dimaksud tamu agung? Apakah bupati? Atau mungkin ada habaib yang akan singgah? Semuanya hanya bisa menerka-nerka. Pesantren darul Qur’an memang sering didatangi para tamu mulai dari ulama sampai dengan para akademisi dan para politisi. Hal ini disebabkan pengasuh di pesantren itu telah banyak terjun dalam berbagai macam bidang, salah satunya adalah politisi. Sebelum mendirikan pesantren ini, beliau mengabdikan diri untuk negara dengan tergabung sebagai anggota DPR.
“Siapa yang rawuh nanti sore, Tan?” tanya Kinasih memulai percakapan dengan teman sekamarnya, Tanti. Tanti adalah sahabat terbaik nya sejak ia menginjakkan kaki di pesantren Darul Qur’an, umurnya juga tak terpaut jauh dengan kinasih. Hanya terpaut lima bulan saja.
“Katanya, gus Fadhli mau datang dari Mesir”. Ujar Tanti sambil mengelus-elus bantal miliknya sembari meniupi jika terdapat debu yang menempel di atasnya.
Waktu itu, Kinasih yang hanya santri biasa pun tidak begitu tertarik dengan kedatangan gus Fadhli, hanya saja ia sangat ta’dhim kepada beliau. Semua santri pun sama sekali belum pernah bertemu dengan gus Fadhli kecuali kang Shohib yang mengurus gus Fadhli sejak kecil. Gus Fadhli memang berwajah tampan, hidung mancung, dadanya bidang dan sangat menghormati seorang wanita. Itu sebabnya, semua wanita yang dijodohkan dengannya sebelum ia berangkat ke Mesir enggan untuk menolaknya. Tapi sayangnya, gus Fadhli tidak menyukai satupun di antara mereka.
***
Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba, pukul 15.37 WIB gus Fadhli datang dengan didampingi kang Shohib. Semua santri pun menyambut kedatangan gus Fadhli dengan rasa hormat dan tentu dengan hati yang berbunga-bunga. Pesantren Darul Qur’an akan memiliki tenaga pengajar baru, tentu pengajar yang kekinian, ilmunya masih sangat fresh untuk dinikmati di kalangan pelajar pemuda zaman now.
Ternyata Kinasih benar-benar kagum dengan ketampanan gus Fadhli. Kinasih adalah tipikal pengagum lelaki tampan dan berwajah teduh, berbeda sekali dengan Tanti sahabatnya. Sejak gus Fadhli lewat di depannya dengan diiringi senyum, hati Kinasih semakin menjadi-jadi. Ada perasaan yang tak wajar ketika menyambut putra kiai. Biasanya rasa suka pun tidak seperti ini. Ini adalah perasaan lebih. Lebih dari sekedar suka dan Kinasih masih belum mampu mendefinisikannya. Apa ini yang namanya kagum? Atau benar ini yang biasa disebut teman-teman sebagai cinta?
Kinasih memang gadis lugu yang tak pernah mengalami jatuh cinta sama sekali. Bisa jadi diantara semua temannya Kinasih lah yang lugu dan tak mengenal arti cinta. Dan dari pertemuan itulah, cerita baru saja dimulai.
***
Sudah seminggu sejak kepulangan Gus Fadhli dari Mesir, Kinasih seringkali melamun dan senyum-senyum sendiri di kamar. Semua temannya bingung, terutama Tanti sahabat baiknya. Hampir setiap hari temannya berfikir ada apakah dengan Kinasih? Sedangkan jika ditanya mengapa? Pasti jawabannya adalah tidak apa-apa.
Sampai pada saat pelajaran gus Fadhli. Gus Fadhli saat ini mengajar ushul fiqih menggantikan ustadz lain yang kebetulan harus boyong karena ada udzur di kampung halamannya. Penjelasan gus Fadhli sangatlah mudah dipahami, beliau menjelaskan secara gamblang disertai dengan contoh-contoh yang kekinian. Sungguh belajar ilmu ushul fiqh serasa menyenangkan. Dari situlah perasaan Kinasih berkembang, mulai ada rasa gelisah saat tidak bertemu dengan Gus Fadhli. Atau jika gus Fadhli tidak hadir pada majelis ta’lim jelas sekali raut wajah gelisah Kinasih. Hingga akhirnya Kinasih memberanikan diri untuk sekedar menyapa via messenger. Seiring berjalannya waktu, Perbincangan mereka sangat asyik, apalagi gus Fadhli seringkali mengajari Kinasih beberapa hal yang baru menurutnya. Kinasih mulai menyampaikan keinginannya hingga memperkenalkan keluarga. Tidak hanya Kinasih, gus Fadhli pun juga sering menceritakan hari-harinya ketika kuliah di Mesir. Ada beberapa hal yang tak terduga diantara mereka berdua.
Cinta memang layaknya pedang, jika kita tak mampu menggunakan pedang itu dengan baik, ia justru akan melukai orang lain. Kisah cinta Kinasih dengan gus Fadhli telah berjalan tiga bulan. Tak ada seorang pun yang tahu akan hal ini, termasuk Tanti sahabat baik Kinasih. Tanti hanya menebak-nebak saja, namun soal menanyakannya langsung dengan Kinasih itu sepertinya adalah hal yang lancang, karena menurut tanti urusan perasaan adalah soal privasi yang tak harus diketahui orang, termasuk sahabat terdekat. Namun, disembunyikan seperti apapun yang namanya bangkai pasti tercium juga. Hari itu Kiai Yasih yang merupakan abah dari Gus fadhli mengetahuinya. Kabarnya beliau mengetahui kedekatan mereka dari salah satu santri. Hingga kiai Yasih pun langsung mengklarifikasi kepada gus Fadhli, apakah benar apa yang dikatakan mayoritas santri ataukah hanya salah faham?
Gus Fadhli tidak bisa mengelak apa yang dirasakannya selama tiga bulan ini. Ia tak sanggup lagi jika harus memendam rasa yang ia alami hingga akhirnya gus Fadhli pun mengatakan kepada kiai yasih apa yang sebenarnya terjadi. Raut wajah kiai Yasih seketika berubah. Ada keganjalan yang harus beliau tanyakan kepada gus Fadhli.
“Piye kowe iso seneng nyang Asih, nang?”
Dari pertanyaan itu, Gus Fadhli menjelaskan semuanya, hingga ia meminta izin untuk kemudian mempersunting Kinasih sebagai istrinya. Namun, kiai Yasih tidak langsung menyetujui permintaan gus Fadhli. Beliau mengatakan harus melaksanakan shalat istikharah terlebih dahulu sebelum menjawabnya. Sebab sebagai seorang kiai, beliau harus menjawab segala sesuatu berlandasakn syariat Agama. Termasuk dalam urusan jodoh. Karena pada hakikatnya jodoh telah ditentukan Tuhan, jika tidak dengan hati-hati menjemputnya bisa jadi ia hanya halusinasi semata.
***
Sudah satu bulan sejak gus Fadhli meminta izin kepada abahnya untuk memperistri kinasih, namun belum juga terdapat jawaban yang pasti tentang hubungannya dengan Kinasih. Suatu sore, kiai Yasih menemui gus Fadhli dan mengatakan bahwa hubungan mereka tidak layak untuk diteruskan. Bukan karena Kinasih tidak baik, namun keduanya akan menjadi tidak baik jika hidup bersama. Tidak hanya dengan gus Fadhli, Kiai Yasih juga menyampaikan hal ini kepada Kinasih dengan tidak mengurangi kewibawaannya. Kinasih hanya bisa manggut-manggut tanda takdzim kepada pengasuh darul Qur’an tersebut. Mau tidak mau, suka tidak suka, mulai saat ini Kinasih harus mulai mengubur perasaannya dalam-dalam. Meski sulit, ridha kiai nya yang merupakan abah dari gus Fadhli sangatlah penting dan yang menentukan masa depan hubungannya.
Enam bulan berlalu, Kinasih masih belum bisa melupakan gus Fadhli secara utuh. Masih saja terdapat bayang-bayang hingga ia masih saja mengingat setiap tempat yang dilewati gus fadhli setiap hari. Mulai dari lorong dan taman baca pesantren, disitulah Kinasih mulai memantapkan hatinya untuk tidak mencari lelaki lain selain gus Fadhli. Namun jika ternyata kebersamaan itu akan menimbulkan ketidakbaikan, mengapa harus enggan dimusnahkan? Bukankah di dunia ini apa yang kita inginkan tidak selamanya dikabulkan? Tapi satu hal, Tuhan tidak pernah memberi cobaan di luar batas kemampuan.
“Sudah dengar kabar terbaru, Sih?” tanya Tanti
“Apa?”
“Perjodohan gus Fadhli.”
Sebenarnya Tanti tidak ingin menceritakan hal ini kepada Kinasih. Namun, ia tidak ingin sahabatnya terlalu banyak menanggung kesedihan. Sampai sekarang, Kinasih belum juga mampu melupakan gus Fadhli, mungkin siapa tau dengan berita perjodohan gus Fadhli akan membuatnya berpikir seperti semula lagi. Tanti ingin sekali mengembalikan senyum terindah sahabatnya itu. Itu artinya, Tanti harus menanggung resiko untuk senantiasa berada di samping Kinasih.
Kabar perjodohan gus fadhli dengan seorang putri kiai Lamongan pun mulai menyebar di kalangan santri. Banyak yang membicarakan soal hubungan kinasih dengan gus Fadhli dulu. Saat inilah hati Kinasih bak dijatuhi buah durian. Rasa sakit yang bertubi-tubi. Kinasih memang belum bisa sepenuhnya ikhlas, namun ia sadar bahwa hubungan yang tidak direstui orangtua tidak pula direstui Allah. Karena ridha Allah tergantung pada ridha orangtua. Kinasih berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan mengekang nafsunya untuk tidak menghubungi gus Fadhli lagi meski beberapa hari ini gus Fadhli meneleponnya saat ia berada di rumah. Ia sadar bahwa yang dialaminya hanyalah kamuflase rasa suka. Ia pernah membacanya di sebuah buku karya Munif Chatib bahwa rasa cinta yang muncul sebelum pernikahan adalah kamuflase rasa suka. Percayalah, sebelum ada akad nikah rasa cinta itu sebenarnya adalah rasa suka, sebab belum ada dimensi ketuhanan yang terjadi. Sayang sekali, banyak orang yang belum memahami ini.
Pada intinya, dari kejadian ini Kinasih mampu belajar bagaimana melepas seseorang yang ia sayang. Bagaimana ia mampu bertahan melawan hati dan pikiran. Yang terpenting adalah bagaimana ia mampu berusaha kuat meski hatinya tertancap. Setidaknya, Kinasih telah mampu memahami bahwa istikharah abah yai adalah pilihan terbaik dalam hidupnya. 
Sarang, 28 Nov. 2017

Komentar