Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2016

MENETRALISIR AGAMA ISLAM MODERNITAS DI INDONESIA

Oleh: Siti Afiah Indonesia sebagai negara demokrasi memiliki keanekaragaman budaya serta akar sejarah yang kuat dalam bermasyarakat. Ekspresi dan aksi masyarakatpun berbeda hingga sangat wajar sekali apabila memiliki kecenderungan-kecenderungan kontemporer dalam bidang agama. Saat ini agama di Indonesia memiliki banyak sekali hal untuk dikaji, terutama adalah agama Islam sehingga pengkajian dan analisis baru terus digali dari berbagai kalangan. Setiap individu dan pemeluk agama pasti meyakini bahwa ajaran agama yang dianutnya adalah benar. Tak peduli jika ajarannya menyimpang dari norma dan aturan negara, jika menurutnya benar tentu ia akan mempertahankan ajaran yang diyakininya sebagai keyakinan yang agung. Problematika agama Islam di Indonesia kini menjadi masalah yang begitu pelik jika didiskusikan. Dengan berbagai macam aliran yang melingkupinya, ajaran-ajaran tersebut begitu meresahkan masyarakat dan para ulama dalam menyikapi hal tersebut. sehingga dapat pula diprediksi ba...

Seelok Bidadari Surga

Kesendirian ini sungguh menyiksa. Setiap saat hanya rindu yang menghampiri, menepuk kedua mata untuk selalu mengingat indah matanya. Lama kuperhatikan langkahnya, petak demi petak keramik berwarna kuning seakan memberi saksi bahwa aku sungguh terpesona. Namanya Syarifah, entah siapa nama lengkapnya. Tapi yang jelas aku hanya tahu nama panggilan yang biasa diucapkan teman sekelasnya. Aku suka memandang matanya, melihat mushaf yang selalu menjadi teman sehari-harinya. Wajahnya teduh, bibirnya pun tak henti-hentinya menyebut asma Allah yang Esa. Semakin hari aku semakin dibuat penasaran oleh sesosok gadis berwajah teduh itu. hingga suatu saat aku mengikutinya sampai di depan gerbang rumahnya. Kejadian ini berlangsung saat aku masih menyandang status sebagai mahasiswa. Kira-kira dua tahun yang lalu. Dan anehnya, sampai saat ini aku kehilangan jejaknya sebagai wanita penakluk hatiku. Entah kemana.             “Dreett.. dreet... dree...

Perasaan yang Terpaksa Harus Dimusnahkan

Maafkan aku yang terpaksa menyakitimu Maafkan aku, aku memang manusia bodoh dengan cinta yang bodoh. Bahkan aku tahu rasa kecewa dan bahagia itu seperti apa. Namun aku tak tahu rasanya dipaksa untuk mencinta seperti apa. Entahlah, seperti air mengalir atau malah seperti burung dalam sangkar. Bahagia atau menderita? Aku juga tak tahu. Aku bingung harus memulainya dari mana. Tak sepantasnya aku mengirim pesan pendek untuk mengakhiri hubungan kita. Aku cukup tahu tentang etika. Pernah belajar di pondok pesantren dan madrasah aliyah, cukup mendorongku untuk menjadi manusia yang bisa menjaga perasaan orang lain. tapi, apakah keputusanku ini kelak akan menyakitkanmu? Maafkan aku, Mas. Jiwa raga, hati, pikir serta naluriku tak pernah sedikitpun berniat untuk hal sebodoh ini. Sebodoh aku yang tak bisa menolak perjodohan itu. pernah suatu saat aku mengirim pesan pendek kepadamu tentang rahasiaku yang belum kau ketahui. Dan kau membalasnya dengan tanggapan masalah perjodohan. Atau hal y...