Kereta di Awal Syawal
Matahari kembali menampakkan sinarnya setelah beberapa hari
tertutup mendung yang begitu menyedihkan. Tak hujan tak pula panas. Sungguh
meresahkan. Namun pagi ini adalah pagi yang begitu indah, matahari mulai
menampakkan diri meskipun tidak secerah musim kemarau kemarin. Aku suka hujan.
Menurutku hujan adalah satu fenomena alam yang indah dan aku sangat
merindukannya. Ya, aku merindukannya sama seperti aku merindukan dia berada di
desaku saat itu.
“Tak perlu khawatir dek, jika memang jodoh, siapapun itu tak akan
bisa mengelaknya. Biarkan cinta ini mengalir sesuai dengan peredarannya,
biarkan dia tumbuh seperti tumbuhan yang baru terkena siraman air hujan. Tak
perlu khawatir, jika memang Tuhan mengijinkan kita bertemu lagi seperti dulu
aku bertemu di desamu, itupun lewat forum yang sama sekali tak terduga. Namun,
Tuhan memang punya banyak cara dalam menghadirkan cinta ke hati hamba-Nya.
Sabarlah dulu dek, aku tahu banyak sekali cobaan dan tantangan yang saat ini
kau hadapi. Bukan hanya kamu, aku juga demikian, sayang. Kuharap kamu bisa lebih sedikit sabar. Tunggu
aku beberapa bulan lagi, aku akan datang membawa keluargaku ke rumahmu.
Sematkan doamu untuk kemudahan ujian akhir kuliahku.”
Kata-katanya lewat email malam ini cukup membuatku tertidur pulas
dan tenang. Aku yakin dia adalah sesosok pria yang konsisten dengan
perasaannya.
Terkadang memang sabarlah yang terbaik dalam mengatasi masalah.
Bekerja paruh waktu untuk membiayai keluarga dan adik-adik sekolah. Namun
apakah ini begitu hina untuk keluargamu? Tapi kenapa kamu masih saja menganggap
aku sebagai seseorang yang spesial di hatimu, mas?
Sama seperti biasanya, malam ini aku mengirimkan email kepada mas
Fahri terkait keluargaku dan keluarganya. Tak ada yang menjadi pokok bahasan
kami di email kecuali hanya membicarakan ketulusan hubungan ini. Dan juga
keluarganya yang selalu mengharap mempunyai menantu yang sama derajatnya.
Sedangkan aku ini siapa? Aku bukan seperti mas Fahri, yang punya banyak santri,
punya pondok pesantren, dan terlahir dari nasab yang sungguh mulia. Sama sekali tak berbanding.
“Kamu yakin dengan keputusanmu nduk? Kamu ndak mikir
kalau sampai bapakmu tahu? Keluarga kita dengan Fahri itu jauh berbeda. Mbok
ya kamu sadar nduk.”
Aku selalu saja memikirkan perkataan ibu malam itu sebelum aku
mengatakan pada ibu bahwa aku sudah tak berkomunikasi lagi dengan mas Fahri. Saat
mas Fahri datang ke gubuk sederhana kami dan meminta izin untuk menjalin
ta’aruf kepadaku. Sungguh dewasa pikiran mas Fahri. Sungguh, dia sangat
mengagumkan.
Aku telah sabar menunggu kepulangannya dari Turki, negara peradaban
Islam yang sangat aku kagumi. Entah kenapa dulu aku selalu saja bermimpi untuk
belajar di negara itu. menjelajah negara penuh dengan sejarah Islam. Rasanya
ingin aku menapakkan kaki ke sana. Apalagi sampai bisa mendapat ilmu di negara
itu, sungguh cita-cita itu sangat mulia. Namun, siapa sangka jika akhirnya aku
hanya bisa kuliah di sekolah tinggi yang baru dibuka dengan satu fakultas saja?
Semua memang rencana Tuhan. Entahlah, aku juga cukup menyadari siapa diri ini.
Terlahir dari keluarga yang sangat sederhana, menjadi tulang punggung keluarga
karena orang tua yang sudah tak mampu lagi bekerja. Itulah kehidupan yang amat
menyedihkan.
Malam berikutnya aku hanya membalas email mas Fahri dengan singkat,
badanku terasa tak mampu lagi mengetik karakter demi karakter kata di tuts
laptopku, aku lemas malam ini.
“Mas, tak ada yang sempurna di alam ini. Aku hanya ragu dengan
keputusanmu. Barokallah, semoga Allah selalu melindungi setiap langkahmu.”
Setelah kukirim email itu, aku mencoba merebahkan tubuhku di
ranjang, dan percakapan malam ini telah usai. Aku benar-benar drop , mungkin
kecapekan karena bekerja srabutan setelah mengajar. Tak pernah sekalipun aku
memberitahu keadaanku saat penyakit datang menyerbu tubuhku. Karena menurutnya,
aku adalah sesosok wanita yang kuat dan tegar dalam menjalani hidup. Itulah
alasanku mengapa aku selalu menyembuyikan setiap permasalahan yang terjadi
dalam kehidupanku sehari-hari. Termasuk saat aku drop karena kerinduan ini. Ya,
tak bisa ku elak lagi. Aku benar-benar merindu.
Lama kutunggu balasan email darinya, malam semakin larut. Hati ini
selalu saja dibalut dengan keresahan dan kegundahan saat dia tak muncul dengan
kata-kata bijaknya. Namun, aku tahu dengan kesibukannya menjalani tugas demi
tugas belajarnya.
“Ah, mungkin dia sedang sibuk, aku harus mengerti keadaannya.”
Ujarku dalam hati.
Kepercayaan memang hal terpenting dalam menjalani hubungan jarak
jauh. Sama seperti perasaan ini kepadamu, mas. Aku selalu saja mencoba
meyakinkan perasaan ini. Meskipun banyak
sekali hati-hati lain yang kecewa karena ku tolak mentah-mentah deklarasi rasa
sayangnya. Itu semua aku lakukan hanya untukmu, ya untukmu seorang.
Pagi ini sama seperti biasa, menyusuri ladang-ladang jagung yang
hampir saja tumbuh karena siraman hujan musim ini. Aku tak pernah sedikitpun
malu tentang statusku saat ini. Entah apa status yang jelas. Bahkan aku juga
mengajar, bekerja srabutan, mengurus ladang, dan mengantar pesanan kue ke
pasar. Lalu, bagaimana jika nanti aku ditanya oleh abahmu apa pekerjaanku? Apa
kegiatanku? Aku harus jawab bagaimana, mas?
Waktu kau masih berada di desaku, saat teman-temanmu mengajar di MI
dekat rumahku, kau pernah bilang bahwa kau akan meyakinkan abah dan ummimu
kalau aku adalah seorang guru yang kelak juga bisa mengajar di pondok
pesantrenmu. Tapi aku tak pernah hidup dalam naungan pesantren, bahkan aku tak tahu ilmu agama
secara intern. Bagaimana mungkin aku menjalani hubungan dengan seorang gus yang
memiliki pesantren terbesar di kota Lamongan? Tak tahu diri sekali aku. Bagaimana
jika nanti aku benar-benar menjadi istrimu dan tak mampu mengajarkan apa-apa
kepada santrimu? Ah, aku terlalu berangan-angan besar. Mana mungkin aku bisa
mendapat cintamu? Rasanya tak mungkin hubungan ini berlanjut, tapi aku hanya
ingin tahu seberapa besar cintamu padaku walaupun akhirnya aku tak bisa
memilikimu dan bersanding dalam ikatan yang suci.
“Mana pilihanmu nduk? Cepat kenalkan pada ibu dan bapak. Ibu
dan bapak takut jika kelamaan menunggu, tak bisa menyaksikan acara
pernikahanmu.”
Malam ini sungguh sunyi. Sunyi dengan seribu bahasa yang tak pernah
aku tahu akan mengucapkannya pada ibu dan bapak.
“Iya pak, bu.. insyaAllah dua bulan lagi. Tepatnya bulan syawal dia
akan ke sini bersama keluarga besarnya.”
Aku tak tahu lagi harus mengatakan apa kepada mereka, aku tak mau
mereka banyak terluka hanya karena menunggu seseorang yang pantas dijadikan
pendamping bagi anaknya. Namun jika bapak tahu yang ku maksud adalah mas Fahri,
pasti dia akan lebih marah melebihi marahnya saat kubohongi akan membawa
seseorang yang cocok untuk mendampingiku.
“Jenenge sopo nduk?”
kali ini bukan hanya ibu
yang bertanya, sepertinya bapak juga tertarik membahas ini. Aku dihadapkan dengan
pertanyaan yang sama sekali aku tak tahu jawabannya. Berbohong atau harus jujur
dengan seribu penolakan cinta? Aku harus tahu apa konsekwensinya jika
mengangkat nama mas Fahri dalam masalah ini. Namun jika tidak dia, siapa lagi?
Karena memang benar dia yang selama ini menghuni relung hatiku. Tak ada yang
lain.
“Nanti juga tahu pak, belum saatnya Laras kasih tahu ke
njenengan.”
Aku hanya bisa mengangkat kalimat itu. aku bingung bukan main.
Berdosa atau tidak, yang jelas aku hanya tak ingin melukai perasaan bapak saat
ini. Itu karena aku sayang mereka, aku terlalu banyak melukainya dan belum
sempat membahagiakannya. Dulu, saat aku masih duduk di kelas enam SD,aku selalu
mengatakan hal ini kepada bapak dan ibu.
“Bu, nanti kalau Laras sudah besar, Laras mau ajak ibu dan bapak
keliling dunia. Ibu juga bisa tunaikan haji di tanah suci.”
Bahkan kata-kata itu sampai sekarang masih saja ada dalam pikiran.
Bisakah aku membawa mereka keliling dunia? Menunaikan haji dan umroh bersama?
Aku memang anak yang bandel, namun sebandel apapun aku, aku tak
pernah berbohong kepada mereka. Dan, itu pertama kalinya aku membohongi diriku
dan orangtuaku.
“Mbak, kapan mbak nikah? Mbak Lastri saja sudah menikah. Mbak ndak
pengen seperti mbak Lastri?”
Pertanyaan adikku membuat nafasku serasa sesak kembali.
Rongga-rongga hidungku terasa tersumbat dengan seribu bakteri. Harus jawab apa?
Anak sekecil itu saja sudah tahu jika aku memang sudah sepantasnya mencari
pendamping hidup. Dengan usia 24 tahun, rasanya tak mungkin lagi hidup bersama
orangtua dengan status single.
“Dian ngomong apa? Sudah, belajar lagi sana. Besok Dian sekolah
kan?”
Aku tak mungkin bisa sepenuhnya menjawab pertanyaan Dian. Dia masih
terlalu kecil untuk tahu permasalahan orang dewasa. Meskipun dari ketiga
adik-adikku, Dian lah yang paling peka dengan keadaan orang lain. Tina dan Dino
tak mau tahu dengan keadaanku. Ya, seandainya Dian sudah dewasa, pasti akan ada
teman curhat walaupun hanya sekedar menumpahkan rasa rindu ini.
Malam berikutnya aku belum terlelap. Sama seperti Dian yang tak
bisa tidur hanya gara-gara banyak nyamuk di kamarnya. Kami memutuskan melihat
suasana malam di teras depan rumah. Dengan melihat bintang-bintang yang begitu
banyak, Dian pun akhirnya terlelap. Cukup lega rasanya melihat Dian terlelap di
pangkuanku.
***
“Ini bukan hal sepele nduk, kamu bisa dikatakan perawan tua
jika kamu ndak segera menikah”.
“Sudah to bu, ndak usah mikir itu dulu. Omongan tetangga itu
ndak perlu dimasukkan ke hati. Toh kita yang menjalani, bukan mereka
bu.”
Malam ini lagi-lagi kami berdebat masalah pernikahan. Masalah
omongan tetangga yang tak kunjung habisnya. Di Sidohasri memang begitu adatnya,
jika ada perempuan yang umurnya sudah 20 tahun ke atas belum menikah, dia akan
diberi title perawan tua. Begitu juga aku, umur 24 tahun sekarang ini membuatku
semakin stress.
“Ibu ini ndak kuat lo nduk nunggu Fahri itu pulang
dari Turki. Kamu cari yang lain saja lah. Toh si Fahri itu kan ndak
sederajat dengan kita”. Ibuku masih saja membicarakan mas Fahri malam ini.
Aku memilih untuk diam menanggapi omongan ibu malam ini. Serasa tak
akan ada lagi hubungan yang mengalir diantara kita. Memang sudah hampir dua
bulan ini dia tak kunjung mengirim email, tak pula mengirim pesan di facebook.
Aku tak tahu apa kendalanya, yang aku tahu dia akan secepatnya pulang. Pulang
dengan membawa seribu kepastian tentang hubungan ini.
Bintang malam ini
begitu terang. Namun tak seterang hatiku. Justru saat ini hatiku gelap, keruh,
tak ada sedikitpun cahaya yang masuk.
“Mbak, belum tidur?” sapa Dino
“Belum dek.”
Aku tak tahu apa yang membuat Dino melangkahkan kakinya ke teras
rumah. Setahuku, Dino tak pernah keluar kamar larut malam, apalagi hanya ke
teras depan rumah. Meski terkadang dia yang seringkali melakukan shalat malam.
Dino sudah cukup dewasa dengan semuanya. hidup dalam keluarga yang sangat
sederhana ini mampu mengantarkan dia hidup semandiri mungkin. Dia tak pernah
sedikitpun mengeluh, bahkan dia tak pernah lagi meminta uang jajan dan merengek
meminta mainan mobil-mobilan seperti dulu. Dia memang bisa diandalkan.
“Mbak kangen sama mas Fahri?”
Pertanyaan Dino malam ini cukup dalam. Tak pernah sebelumnya dia
menanyakan Fahri kepadaku. Bahkan dia yang pertama kali menolak hubunganku dengannya.
Namun malam ini, dia menanyakan Fahri seolah dia juga ikut merasakan rindu ini.
“Nggak dek, masih belum pengen tidur saja. Kamu sudah tahajjud?”
“Ndak usah bohong mbak, aku sudah cukup tahu tentang masalah
ini. Aku sering mendengar tetangga bicara apa tentang mbak. Aku sudah dewasa
mbak.”
Dino memang benar. Dia tak bisa dibohongi lagi dengan
permasalahan-permasalahan seperti ini. Dia sudah dewasa.
“Bahkan mbak ndak tahu harus bagaimana, dek. Ibu dan bapak
sepertinya tak setuju dengan hubungan kami. Kamu juga ndak setuju kan
jika mbak sama mas Fahri?”
“Bukan ndak setuju mbak, Dino punya alasan. Status sosial
keluarga kita dengan mas Fahri itu beda. jika nanti mbak nikah dengan mas
Fahri, mbak ndak mikir keluarganya? Pesantrennya? Siapa yang akan jadi
penerus kiai Sahal kalau mas Fahri menikah dengan wanita yang tak pernah mondok
dan tak pernah belajar agama secara intern?”
sama sekali tak menyangka adikku bisa berfikir sejauh itu. Aku saja
tak pernah memikirkan hal itu sebelumnya. Yang aku pikirkan hanyalah bersanding
dengan mas Fahri dalam ikatan yang suci. Dengan demikian, aku bisa belajar
dengannya. Mempelajari ilmu yang dia dapatkan dari Turki, negara Islam yang aku
kagumi. Apakah mungkin aku hanya sekedar mengaguminya saja? Apa ini bukan
cinta? Lalu jika bukan cinta, kapan aku akan merasakan cinta yang sesungguhnya?
“Mbak tahu dek. Mbak juga sadar diri. Tapi, rasa ini begitu dalam.
Aku tak mampu mengelaknya. Mas Fahri juga demikian, dia menyuruhku menunggunya
pulang dari Turki. Dan itu artinya, dia pasti akan datang melamarku, bukan?”
“Tapi apa bukti keseriusannya? Sampai sekarang dia tak juga
mengirim kabar pada mbak kan?”
“Mungkin mas Fahri sedang sibuk dengan tugas akhirnya, dek. Jangan
negatif gitu ah.”
“Mbak terlalu baik.”
Dino bangkit dari tempat duduknya, masuk ke dalam dengan wajah
sedikit marah. Mungkin karena jawabanku yang tak mengenakkan hatinya. Dia
adalah tipe orang yang mudah tersinggung, sama seperti bapak. Aku tak tahu saja
mengapa malam ini kami begitu akrab. Walaupun di akhir kami terlihat seperti
bertengkar. Namun, memang ini adalah pertama kalinya aku membicarakan mas Fahri
dengan Dino. Dan ternyata dia cukup peka.
***
Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an memberi kesejukan bagi hamba yang
benar-benar merindukan ketenangan. Suara Aji, anak berusia 10 tahun itu telah
membuat semua warga terkagum-kagum
mendengarnya, termasuk aku. Peringatan penyambutan bulan suci ramadhan
telah dirancang sedemikian bagus oleh semua masyarakat.
“Suara siapa ini mbak Laras?” tanya Dian sambil membereskan
peralatan untuk acara penyambutan bulan ramadhan nanti malam.
“Bukannya ini suara Aji to dek? Aji temanmu dulu waktu masih TK.”
“Ajii...?”
“Iya, ndak nyangka kalau Aji punya bakat segitu hebatnya.
Suara emasnya itu lo dek, bisa buat hati mbak luluh. Sungguh merdu suaranya.
Makanya, pesan mbak, jangan sampai kamu meremehkan orang lain. Setiap manusia
itu diciptakan punya sisi kelebihan, tapi mereka juga diciptakan dengan sisi
kelemahan. Meskipun Aji tidak senormal anak lain, tapi dia punya bakat yang
luar biasa.”
“nggeh mbak.”
Setelah cukup lama kami berbincang, akhirnya aku dan adikku mencoba
melangkahkan kaki menuju mushalla. Karena memang di desa Sidohasri tidak ada
masjid yang dibangun. Rata-rata mereka membangun mushalla untuk keperluan
ibadah dan shalat berjama’ah. Kami memutuskan untuk pergi ke mushalla terdekat.
Di sana sudah nampak beberapa orang yang membawa karpet maupun sajadah panjang
untuk acara yang akan berlangsung malam ini.
Tak lupa kami pun ikut berpartisipasi dalam acara besar itu. segera
kami rapikan semua alat-alat yang telah digunakan ibu-ibu untuk membereskan
mushalla.
“Mbak Laras, itu Aji. Ayo kita tanya mbak, apa benar dia yang
melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an tadi?” Dian menggandeng tanganku menuju
Aji yang sedari tadi sibuk dengan bacaan Al-Qur’annya.
Aku mencoba menuruti permintaan adikku yang hanya ingin kepastian
tentang suara merdu itu.
“Permisi dek Aji, dek Aji tadi yang qira’ah di dalam ya?”
“Iy...a.a” Dengan muka sedikit ketakutan dia mencoba mengalihkan
pandangannya kearahku.
“Tenang saja Ji, aku Dian, teman SD mu dulu. Masih ingat ndak?”
ucap Dian meyakinkan.
“o.oo.. iya, saya ingat. Maaf saya tidak tahu.”
“Sekarang sekolah dimana dek Aji?” Aku mencoba meneruskan
perbincangan.
“Saya di Lamongan. Nyantri di kiai Sahal mbak.”
Belum selesai perbincangan kami, aku pun terasa sangat rendah jika
mendengar nama pesantren itu. nama kiai itu. rasanya tak sanggup. Kiai Sahal,
Pesantren , terlebih mas Fahri. Tiga hal yang sangat aku resahkan. Bimbang.
Aku dan Dian pun pamit undur diri di hadapan Aji. Entah apa yang
ada di benak Aji, mungkin saja dia telah melihat ekspresi wajah yang semula
ceria menjadi wajah yang banyak dosa. Entahlah, memang rasanya aku tak pantas
untuk bersanding dengan mas Fahri dalam ikatan suci.
***
Bulan ramadhan telah berlangsung selama 18 hari. Banyak sekali
rutinitas yang harus diselesaikan dengan jadwal. Meskipun hanya menjadi
pengajar ngaji di mushalla dekat rumah Aji, tapi sungguh ini cukup membuatku
nyaman. Dan terlebih bisa sedikit melupakan mas Fahri. Aku pun berharap
datangnya ramadhan ini penuh dengan keberkahan, kemuliaan, dan bisa memberi
manfaat bagi yang lain.
Setelah shalat tarawih di mushalla, aku pun langsung menuju ke
rumah bu Istianah untuk memenuhi janji yang telah kami ikrarkan tadi sore. Dia
memintaku untuk mengajar ngaji anaknya. Ya, aku terima saja lah tawaran itu.
bukan karena mengharap imbalan atau sejenisnya, hanya saja ingin menambah
amalan di bulan suci ini. Sesampainya di rumah mewah bercat hijau putih itu,
aku langsung disambut dengan seribu keramahan. Serasa tuan puteri yang memasuki
istana.
“Silakan mbak Laras duduk dulu, maaf ya membiarkan mbak datang
sendirian. Seharusnya tadi kami mengirim sopir untuk menjemput mbak Laras.”
Keluarga bu Istianah sangat menghormati tamu. Dengan seorang guru
ngaji gadungan saja diperlakukan seperti halnya putri raja. Sungguh, keluarga
yang sangat menjunjung tinggi ajaran agama. Tak bisa bayangkan jika yang datang
adalah seorang presiden Republik Indonesia. Bisa jadi seluruh rumah di jual
untuk bisa menghormatinya.
“Wah, tak perlu repot-repot bu, saya sudah biasa jalan kaki kok.
Lagian rumah saya tidak begitu jauh.”
“Lo mbak Laras ndak boleh sering jalan jauh lo ya, kan belum
nikah. Hehehe.”
Omongan bu Istianah sedikit nylekit, meskipun niatnya hanya guyon
saja. Aku bisa menyadari bahwa keluarga bu Istianah punya nilai plus di mata
masyarakat. Selain sopan, ternyata mereka sangat peka dan dermawan. Pantas jika
semua warga di Sidohasri ini sangat menghormati keluarga bu Istianah.
Bu Istianah adalah
warga pindahan dari Demak. Beliau tinggal di Sidohasri karena punya lahan yang
cukup luas di sini. Jika melihat keluarga itu, rasanya aku iri. Dan lagi- lagi
penyakit hati ini kambuh. Aku cukup normal dengan merasakan hal semacam ini.
Harapan mempunyai keluarga yang berkecukupan dan bahagia tentu saja ada di
benak semua manusia.
***
Ramadhan telah usai, setelah MUI menyatakan bahwa tanggal satu
syawal jatuh besok, semua warga sidohasri sibuk untuk menyiapkan hidangan di
hari suci itu. tak terkecuali aku dan adik-adikku yang belajar membuat kue
sederhana. Kue yang bahannya dari singkong dan sedikit gula merah. Itu adalah
makanan tahunan yang luar biasa bagi keluarga kami.
“Allahu Akbar.. Allahu Akbar walillahilham..”
Suara takbir telah berkumandang setelah adzan isya’ selesai. Semua
warga sidohasri termasuk bapak, ibu, dan adik-adikku melantunkan takbir yang
agung itu. lama kami duduk bersama di teras depan rumah hingga akhirnya bapak
dan ibu menyuruhku masuk.
“Ras, besok akan
ada tamu dari Pemalang” tutur ibuku memulai percakapan.
“Sinten
bu?”
“Besok lak
tahu sendiri.”
Aku tak tahu siapa gerangan yang dimaksud ibu dan bapak akan datang
besok. Tapi, apakah mungkin saudara yang ada di Pemalang? Setahuku, kami tak
punya saudara dari Pemalang. Yang ada malah di Pekalongan. Ah, atau mungkin ibu
dan bapak salah ucap? Aku tak terlalu memikirkan itu, mungkin saja ibu dan
bapak hanya menyuruhku di rumah dulu setelah selesai shalat idul fitri.
Hari ini, tepat tanggal satu syawal, aku dan keluarga saling
meminta maaf. Kesalahan setahun yang telah lalu begitu banyak dan ini adalah
moment bahagia bagi semua umat Islam di dunia.
“Sugeng riyadin
pak, bu. Mohon maaf jika Laras punya salah”
“Sami-sami nduk,
bapak ibu ya minta maaf.”
Setelah kami saling memaafkan, terdengar suara klakson mobil dari
depan rumah. Tepat di halaman rumah kami telah terparkir mobil Avanza merah.
Siapa yang mengemudikannya pun aku tak cukup kenal. Dengan mobil mewah seperti
itu, kok bisa-bisanya mampir di gubuk tua dan jelek ini?
“Assalamualaikum..”
“Wa’alaikumsalam..”
Ibu dan bapak nampaknya cukup akrab dengan mereka, terlebih dengan
seorang pria yang menjadi anak dari keluarga ningrat itu. namanya Rahman, itu
yang aku dengar dari ibu melalui bilik kamarku. Mereka cukup banyak membahas
namaku, dan aku tahu apa maksud dari semua ini. Aku paham dan aku sudah cukup
dewasa untuk memahami arti pertemuan dua keluarga ini. Tak perlu kecewa, hanya saja aku merasa bahwa
di hati ini masih belum bisa menghapus nama mas Fahri. Itu saja. Aku masih
berharap mas Fahri bisa datang dengan keluarga besarnya hari ini, sesuai dengan
janjinya dua tahun yang lalu. Namun siapa sangka jika akhirnya Tuhan
mempertemukanku dengan sesosok lelaki lain yang orangtuaku menerima dan begitu
pula aku, aku harus menerimanya walaupun dengan sedikit keterpaksaan.
Tak ada yang perlu disesali, kali ini aku hanya bisa memantapkan
hatiku untuk belajar mencintai Rahman. Ya, Muhammad Abdur Rahman, pemuda asal
Pemalang yang tak pernah kutahu akan menjadi pengganti dari mas Fahri.
Seminggu setelah pertemuan kami, aku merasa bahwa dia lah lelaki
yang tepat untuk menjadi pendamping hidupku. Dia baik, santun, berpendidikan
dan pintar mengaji kitab salaf. Itu sudah lebih dari cukup. Meski tak pernah belajar
di Negara peradaban Islam, Turki, namun akhlak dan pengetahuannya sudah cukup
mampu membawaku ke sana, negara yang lama kuimpikan.

Komentar
Posting Komentar