Do'a Faza (Gadis Belia yang Mulia)



“Bukan, bukan itu sayang. Itu hanyalah sebuah cermin. Hanya bayanganmu saja yang ada di hadapanmu. Sayang, tolong dengarkan ayah.”
Suara seperti itu hanya menjadi intermezzo saja di telinga Faza, gadis 9 tahun yang sehari-harinya hanya tinggal di dalam kamar. Tak heran, jika sekali keluar dia takjub dengan keadaan dunia yang elok dan memesona ini.
“Ayah, kenapa dulu ayah tak pernah bilang bahwa dunia luar sangat indah? Faza ingin menikmatinya bersama ayah dan ibu. Tapi sayang, ibu sedang berada di surga ya Yah?”
Perkataan gadis kecil itu membuat sontak ayahnya. Seolah merasa kasihan pada gadis kecilnya yang sedari lahir tak pernah merasakan sentuhan dan kasih sayang ibunya. Sejak lahir, ibunya telah meninggalkan dunia untuk selama-lamanya. Meninggalkan dirinya dan ayahnya. Faza tak pernah rewel, apalagi bandel seperti anak-anak seusianya. Hanya saja, dia merasakan kerinduan yang mendalam dengan sesosok ibu. Tak pernah sekalipun dia keluar rumah, tak juga merasakan belajar bersama teman-temannya. Apalagi teman, bahkan kenalan pun dia tak punya. Setiap hari ayahnya yang selalu menyewa guru privat untuk mengajarinya berbagai macam ilmu seperti di sekolah-sekolah lain.
“Iya sayang, ibu sekarang lagi di surga bersama bidadari-bidadari cantik.”
Setiap kali Faza bertanya demikian, pasti ayahnya selalu berkata bahwa ibunya sedang berada di surga. Bersanding bersama bidadari-bidadari cantik. Meskipun terkadang hati seorang ayah tersayat ketika mendengar buah hatinya meminta kehadiran seorang ibu yang bisa menenangkan hatinya.
Faza tak cukup mengerti arti dari kematian, dia hanya mengerti bahwa suatu saat nanti ibunya akan kembali membawa beribu bunga dan boneka kesayangannya.
“Ayah, ibu akan kembali ke rumah kan? Kalau ibu pulang, pasti ibu membawa boneka kesukaan Faza dan juga bunga mawar. Iya kan yah?”
Sekali lagi ayahnya tak tega melihat pertanyaan anak yang belum memiliki dosa apa-apa tentang ibunya, ayahnya hanya bisa menganggukkan kepala.
            Suatu hari ketika ayahnya ingin pergi ke pasar untuk membeli semua bahan makanan, ayahnya pun mengajaknya jalan-jalan. Faza berdiri di depan sepeda motor butut ayahnya dan memandangi semua yang ada pada motor butut itu.
“Ayah, kenapa alat ini bisa berjalan?”
“Karena ini punya mesin, sayang.”
“Mesin itu apa yah?”
“Mesin itu alat yang digunakan untuk menggerakkan atau membuat sesuatu yang dijalankan dengan roda, digerakkan oleh tenaga manusia ataupun penggerak, menggunakan bahan bakar minyak ataupun tenaga alam.”
Ayahnya tak pernah sekalipun marah terhadap semua pertanyaan yang diajukan Faza. Ayahnya selalu menjawab pertanyaannya dengan jujur dan sesuai dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya Hanya saja, saat menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan ibunya, ayahnya tak pernah sekalipun jujur. Selalu menutup-nutupi dengan ini itu yang menurut rasio salah.
Setelah keduanya siap, ayahnya pun langsung membawa Faza berkeliling kota Ngawi. Sebelum berangkat ke pasar, Faza dan ayahnya mengitari alun-alun kota Ngawi dengan sepeda butut ayahnya.
“Ayah, apakah di surga juga ada taman indah seperti ini? Apakah ibu juga senang di sana yah?”
Kali ini ayahnya hanya diam saja, tak merespon pertanyaan Faza sedikitpun.
“Ayah, kok gak jawab? Ibu pasti senang ya yah?”
Ayahnya mencoba mengalihkan pembicaraan. Tak sanggup jika melihat anaknya terus-terusan menanggung kebodohan yang dibuat dirinya sendiri.
“Faza nanti mau apa kalau sudah sampai di pasar?”
Faza tak seperti anak-anak yang lain, yang bisa dibohongi dengan disodorkan berbagai macam permintaan untuk membuat kenyamanan hatinya. Dia sangat cerdas dibanding anak-anak seusianya. Meskipun, dia tak pernah bersekolah formal seperti halnya teman-teman dan tetangganya.
“Ayah, ayah pernah bilang ke Faza kan, kalau ada orang bertanya sebisa mungkin kita jawab pertanyaannya. Tadi ayah belum jawab pertanyaan Faza.”
Ayahnya bingung bukan main, anak seusia dia ternyata sudah mampu menangkap memori yang telah lama diutarakannya.
“Oh iya, sayang. Ayah lupa...”
“Hehehe.. iya yah kita kan harus saling mengingatkan. Ibu senang ya yah di surga?”
“Oh,iya tentu sayang. Ibu sangat senang berada di sana.”
Ayahnya tak tahu lagi apa yang semestinya diucapkan. Disisi lain, dia tak ingin putri kesayangannya kecewa, disisi lain dia juga tak menginginkan sandiwara ini berlangsung. maka akibatnya akan sangat fatal jika Faza tahu keberadaan ibunya sekarang. Pasti ini akan berpengaruh juga pada kesehatan dan kondisinya yang labil.
Sepulang dari pasar, Faza pun mencoba baju yang telah dibelikan ayahnya. Dia berdiri sembari menghadap ke arah kaca yang tergantung di atas tembok dekat kulkas. Memutar balik tubuhnya yang ramping dan mengibaskan rambut lurus dan hitamnya. Semua orang berkata bahwa Faza sangatlah mirip dengan almarhumah ibunya. Begitu pula Pram, ayah Faza. Tak ada yang bisa mengelak bahwa Faza adalah gadis belia yang cantik dan menarik.
            “Ayah, bajunya bagus ya? Kapan-kapan ayah ajak Faza beli baju lagi di pasar ya?”
            “Iya sayang, nanti ayah belikan baju yang lebih bagus lagi.”
Rasa sayang Pram terhadap Faza memang melebihi apapun. Tak sanggup jika dia harus kehilangan putri kesayangannya. Sudah cukup ia menanggung kesedihan dengan merelakan istri tercintanya menghadap sang kuasa. Apalagi dia juga tahu bahwa Faza mengidap penyakit yang sama dengan almarhumah ibunya. Tentu perasaan Pram akan diliputi kesedihan yang berlanjut jika anaknya, Faza tak segera dioperasi.
            “Sayang, besok kita ke dokter ya.”
            “Untuk apa ke dokter yah? Faza tidak sakit kok. Lihat, Faza sehat, kuat.”
            “Faza memang tidak sakit, ayah Cuma pengen Faza belajar di sana. Katanya Faza pengen jadi dokter.”
            “Horee.. Faza jadi dokter. Iya yah, Faza mau ke dokter.”
Sejak usianya 7 tahun, Faza memang sering mengutarakan cita-citanya. Dia mengatakan bahwa menjadi seorang dokter itu sangatlah agung jasanya. Bahkan, seorang dokter bisa menyembuhkan orang-orang yang sakit. Dengan cara itu, dia berpikir bahwa dia dapat menyelamatkan orang lain yang membutuhkan bantuannya.
Hari itu tepat hari senin, Pram dan Faza berangkat pagi ke rumah sakit langganan mereka. Sepanjang jalan, Faza selalu menanyakan hal yang tidak ia ketahui kepada ayahnya. Begitu pula ayahnya, ia selalu menjaawab semua pertanyaan yang diutarakan Faza kepadanya. Rumah sakit Harapan yang biasa kita kunjungi letaknya bersebelahan dengan sekolah dasar pelita 01. Setiap kali Faza melihat aktivitas murid-murid di sekolah itu, Faza selalu saja menanyakan hal yang sama dengan yang kemarin ia tanyakan kepada ayahnya.
            “Yah, teman-teman di sana lagi belajar ya?”
            “Iya sayang, teman-teman lagi belajar. Faza nanti juga belajar ya?”
            “Ayah, Faza pengen belajar di sana juga, boleh ya yah?”
Belum sempat menjawab pertanyaan Faza, ternyata seorang dokter memanggil Faza untuk diperiksa. Dokter Erna, itu adalah dokter langganan mereka. Selain cantik, dokter Erna juga sangat menyayangi Faza seperti anaknya sendiri. Apalagi dokter Erna tahu bagaimana sejarah kelahiran Faza yang sangat menyakitkan. Ditinggal sesosok ibu tentu tak mudah bagi setiap anak, terlebih bagi gadis belia seperti Faza.
            “Faza, ayo masuk sayang.” Ucap dokter Erna kepada Faza.
Tanpa banyak bicara, Faza pun mendekat ke arah dokter Erna dan meninggalkan ayahnya di luar. Faza tak takut seperti pertama kali diperiksa, dia mulai mengerti bahwa dia hanya berpisah sementara waktu dengan ayahnya. Tak ada yang perlu ditakutkan, karena ayahnya selalu menunggunya di depan pintu ruang periksa. Seperti biasa, setelah Faza selesai diperiksa, dia bergantian dengan ayahnya untuk masuk dan keluar ruangan. kali ini ayahnya yang masuk untuk mendengarkan perkembangan penyakit Faza.
            “Sebaiknya Faza harus segera dioperasi,pak. Benjolan yang terdapat pada kelenjar otaknya semakin mengeras. Tak mungkin dia bisa bertahan dengan kanker ini.”
            “Lakukan yang terbaik, dokter.”
Sepulang dari rumah sakit, Faza sangat penasaran dengan apa itu kanker. Satu kata yang telah berhasil membuat dirinya penasaran dan rasa ingi tahunya berkembang. Tak sengaja dia mendengar pembicaraan ayahnya dengan dokter Erna waktu di rumah sakit tadi. Tak ada bayangan yang negatif sedikitpun tentang kondisi dan keadaannya. Hanya saja, dia perlu banyak beristirahat agar bisa belajar seperti anak-anak yang lain di sekolah dasar.
            “Ayah, kanker itu apa yah? Tadi dokter Erna bilang kalau Faza kena kanker.”
Ayahnya tak sanggup menjawab pertanyaan gadis belianya. Air mata mengucur deras seperti hujan. Kedua pipinya basah, matanya sembab. Tak mampu bicara apapun kepada anaknya, Faza.
            “Ayah, maafkan Faza. Ayah kenapa menangis?”
            “Tidak, sayang. Ayah kelilipan tadi.”
Pram tak pernah sekalipun memperlihatkan kesedihannya di hadapan Faza. Dia selalu menutup-nutupi kesedihan dan masalah yang melanda hatinya. Jangan sampai gadis kesayangannya tahu akan kesedihan yang dialami selama ini.
Malam itu, Faza mulai merasakan sakit di bagian kepalanya. Saat ayahnya, Pram usai shalat maghrib, terdengar teriakan yang mengagetkannya. Setelah dia tengok, Faza telah terbaring lemas di atas lantai kamarnya. Seketika itu, Faza pun dibawanya menuju rumah sakit. Pram tak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia hanya bisa berdo’a dan meminta dokter untuk menangani anaknya dengan sekuat tenaga. Sampai saatnya Faza membuka kedua matanya dan memanggil-manggil nama ayah dan ibunya.
            “Ayaah... Ibuu..” suara rintihan gadis itu amat terdengar di telinga Pram.
            “Iya, sayang.”
            “Maafkan Faza ya yah, Faza telah banyak memberi beban kepada ayah.”
Perkataan gadis itu seakan memberi tanda bahwa dia tak akan kembali ke dunia selamanya. Tentu perasaan Pram semakin diliputi dengan kecemasan. Dia khawatir jika gadis belianya tak bisa bertahan dengan penyakit yang menyerangnya.
            “Faza sayang, ayah sangat berharap kamu bisa bertahan dengan rasa sakit ini ya, Faza berdo’a sama Allah biar dikasih sembuh dan bisa main lagi sama ayah.”
Suara Pram sangat berat saat mengatakan itu kepada Faza. Dia menahan air matanya jatuh di hadapan gadis kesayangannya. Tak ingin melihat Faza semakin sedih, apalagi ikut menangis meratapi penyakit yang menimpanya.
            “Yah, Faza selalu berdo’a meminta kepada Allah agar dipertemukan dengan ibu kembali. ayah jangan sedih lagi ya.”
            “Iya sayang. Ayo kita berdo’a bersama semoga Allah mempertemukan kita dengan ibu ya.”
Gadis belia itu kemudian memegang erat tangan ayahnya. Ditaruhnya di atas dada dan dia mulai mengangkat kedua tangannya seraya berdo’a:
Ya Allah, Faza dan ayah ingin sekali berkumpul bersama ibu. Tolong pertemukan kami dengan ibu ya Allah..
Ya Allah, Faza sangat sayang pada ayah. Tolong jaga ayah ya..
Ya Allah, satu lagi permintaan Faza, Faza ingin menjadi dokter seperti dokter Erna. Tolong kabulkan do’a Faza ya...
Ya Allah, jika permintaan Faza sangat banyak, tidak apa-apa kalau tidak dikabulkan. Tapi Faza ingin permintaan pertama dikabulkan yaa.. soalnya Faza ingin sekali melihat wajah teduh ibu. Amiin.
Usai berdo’a, Faza mencium tangan ayahnya. Begitu pula ayahnya, dia mencium kening anaknya dengan air mata yang bercucuran. Seulas senyum tersungging di pipinya, mengiringi kepergian Faza untuk selamanya.

Komentar