(0:29 WIB)




Malam ini seperti malam biasa, hanya berkutat pada tulisan-tulisan yang rasanya ingin menerkam setiap persendian hati dan otak, naluri dan pikir. Tetap setia berada di atas tuts laptop menjadikan keinginan ku untuk kembali menggambarkan indahnya kota Sarang, kota dengan seribu impian dan harapan. (lebih dari itu, aku tak mampu untuk melukiskan keindahannya)
Oke, apa kabar Sarang dini hari?
Sudah empat tahun terakhir, yang kurasakan hanya langit Sarang yang panas, debu jalanan yang tak pernah habis, serta deburan ombak yang senantiasa mengiringi candaan kita di sore itu. sungguh syahdu, apalagi kita sibuk menghitung dan mengenali bus antar kota dengan ke-khasan nya. Itu mengasyikkan, kawan.
Tapi, samakah yang kurasakan pada dini hari ini? Saat mata telah terlelap dan hanya pejuang skripsi yang masih terjaga? Ini lebih mengasyikkan lagi. Karena saat ini hanya ada aku dan impian besarku. Aku mungkin terlalu melankolis dalam menuliskan sesuatu, dalam hal menggambarkan apapun itu. kata temanku, aku adalah salah satu dari bagian mereka yang hanya bisa melihat sesuatu dari hati dan nurani. Saat hati berkata “tidak”, maka apa yang kulakukan cenderung lebih dari apa yang kuharapkan. Tapi ternyata, hati ini terlalu baik. Terlalu memikirkan orang lain untuk hal-hal yang bahkan tidak kuharapkan sesungguhnya. aku tak pernah meminta hati ini untuk senantiasa memaafkan perbuatan keji orang lain. namun nyatanya, hati, naluri, dan otak yang tak pernah bersekongkol untuk mendapatkan kesepakatan. Hati ingin melakukannya, ternyata otak tak setuju dengan itu semua. Merepotkan bukan?
Tapi malam ini bukan hal itu yang sedang ingin kubahas, bukan. Aku ingin membahas keindahan Sarang pada pukul sekarang ini (0:59 masih di titik ini). Lebih tepatnya keindahan dan komitmen perjuangan 4 tahun silam.
Aku hanya ingin mengingatkan bahwa kita pernah mempunyai komitmen yang kuat waktu itu. disaat air mata menghampiri dan pada saatnya harus melupakan Semarang sebagai impian. Hingga Sarang sebagai tujuan. Banyak yang kudapatkan dari peristiwa itu, bahwa apa yang menurutmu baik, belum tentu baik di hadapan Tuhan. Romantis bukan? Tuhan selalu punya cara tersendiri untuk mengingatkan hal itu.
Hidup harus punya komitmen yang kuat, kawan. Bukan hanya karena apa yang kita jalani terpaksa, dan pada akhirnya kita hanya sebatas ilalang lalu menghilang. Kita harus kuat menjalani semua sampai pada hal yang tidak kita sukai sekalipun. Karena semua akan indah, jauh berbeda dari apa yang kita fikirkan. Terimakasih, keterpaksaan ini membawaku untuk sedikit demi sedikit mengagumi kota ini. Terimakasih, air mata yang dulu mengiringi membawaku mengerti bahwa hidup harus tetap berjalan meski perencanaan telah gagal. Tapi bukankah kita bisa membuat perencanaan baru agar senantiasa hidup sebagai orang yang baik-baik saja?
Mungkin terlihat aneh, mana mungkin hidup dengan perencanaan baru bisa semudah dan secepat itu? hey, come on... segala sesuatu membutuhkan proses, kawan. Tak ada yang instan. Katakanlah mie instan yang sudah instan saja membutuhkan rebusan air untuk menciptakan rasa yang enak.. kita juga seperti itu, semua adalah melalui proses yang myata.
Untuk malam ini, aku hanya ingin berterimakasih kepada air mata. Kepada kesedihan, serta kepada kekecewaan di masa lalu. Tanpa kalian, aku tak bisa sampai di tahap ini.
Bahwa apapun yang terjadi, hidup harus berjalan seperti biasanya.
Shit happens, but life goes on J
Sarang, 08 oktober 2017

Komentar

Posting Komentar