MENGINGATMU HANYA AKAN MEMBUANG WAKTU

Oleh: Jinan Avia
Kau tahu? Berapa banyak rindu yang kau kirim sejak perpisahan kita tahun lalu?
Kau tahu? Berapa banyak luka yang kau torehkan hingga sedikit demi sedikit rasa ini pudar?
Kau tahu? Aku adalah wanita bodoh dengan cinta yang bodoh. sudahkah kau mengucap istighfar tanda percaya?
Mengingatmu hanya akan membuang waktu. Kau tahu kan? Aku cukup sibuk dengan duniaku saat ini. Sudah, tolong hapuskan bayang-bayang masa lalu itu. gantikan dengan secercah harapan indah di masa datang. Haruskah ku melawan arus tanda godaan melayang? Atau haruskah ku berdiam tanda tak mampu melawan?
Kau ingat? Bahwa kenangan kita adalah seputar hujan? Hujan di malam yang sunyi dengan petir yang menyambar dahsyat. Aduhaii..
Kau ingat? Katamu dulu, hujan adalah fenomena yang paling mengasyikkan. Fenomena Tuhan yang paling indah disyukuri. Sepertinya kita sedang mempraktikkan cerita konyol Abu Nawas tentang hujan. Bahwa hujan adalah rahmad Tuhan yang bahkan tidak boleh kaki kita menginjak-injaknya. Maka, saat itu kita keluar dari toko buku lalu bercengkerama di bawah hujan yang lebat. Mengasyikkan memang. Sambil bermain tanya jawab seputar filsafat. Aku bahkan tak tahu pembahasan apa itu. tapi katamu, filsafat adalah bagian dari hidupmu. Entahlah.
Aku hampir tak tahu kenapa kau begitu menyukai filsafat. Apalagi tentang tulisan-tulisan Ibnu Athoillah As-Sakandary dalam Al-hikam. Hampir setiap hari kau membacanya. Sedangkan aku? Membaca kitab saja masih bingung seputar mubtada khobar. Aku ingat waktu itu saat kau tiba-tiba meneloponku. Mengajari seputar nahwu shorof. Ada banyak hal yang belum kuketahui dari ilmu itu. tentang idhofah, naat man’ut, jer majrur atau yang lain. sama sekali aku tak paham. Lalu kau tiba-tiba mengarahkanku sedikit demi sedikit apa itu ilmu nahwu. Rasanya, aku seperti orang awam yang mendapat siraman rohani. Hehe
Kau tahu? Kenangan itu masih jelas sekali tergambar dalam memoriku. Dan kau tahu? Melupakan juga butuh waktu yang lama. Bukan hanya sekedar jarang bertegur sapa. Lantas hilang semua memori yang telah kita buat bersama. Tidak, sama sekali tidak! Kecuali jika memang kita sama-sama menderita amnesia. Hilang semua kenangan yang kita bina. Tapi menjadi amnesia tidak mungkin semudah itu bukan?
Sekarang terserah.
Aku tak pernah menyuruhmu untuk menghilangkan memori tentang kita. Namun, kau pasti tahu apa yang kuinginkan dari awal kita bertemu di cafe itu. kamu cukup cerdas untuk menebak pikiran orang lain, apalagi pikiran wanitamu sendiri. Oh, bukan. Aku lupa bahwa kita sudah lama berpisah dan menjadi aku aku dan kamu adalah kamu. Perasaan memang sesuatu teraneh. Ia bisa saja berganti, berbolak-balik tak menentu. Kehendak Tuhan memang, tapi setidaknya mampu menjaga komitmen yang telah disepakati atas nama Tuhan pula.
Tidak banyak yang kupanjatkan dari doa-doa malamku. Aku hanya ingin kamu bahagia. Entah definisinya seperti apa, asal kau mampu segera melupakanku. Terkesan egois ya? Lantas mau bagaimana lagi? Kita tak bisa melewati badai bersama. Kita hanya bisa saling mendoakan agar tidak terkena badai yang telah lewat. Jujur, aku tak pernah punya alasan untuk mengakhiri ini. Mengakhiri semua cerita dan dongeng yang pernah kita harapkan untuk kita wujudkan menjadi sebuah novel yang bestseller. Seperti karya Habiburrahman mungkin, atau karya penulis favoritku, Tereliye. Semua cerita itu kini terpotong layaknya kehidupan manusia. Kematian memang tak pernah diketahui siapapun bukan?
Ketakutanku selama ini memang tak beralasan. Tapi, insting seorang wanita selalu saja benar. Termasuk instingku tentang hubungan kita. Ya, hubungan yang tak mungkin bisa dipertahankan lagi.
Akhirnya aku sadar bahwa banyak cara Tuhan menunjukkan siapapun yang pantas untuk mendampingi hidup kita. Kesadaran ini bukan sebuah keterlambatan, tapi anggap saja ini adalah alasanku menolak melihat kau memberikan hatimu kepada cewek lain. sebenarnya aku sedang berpesta kesedihan dan ber-eforia melawan kemarahan yang tak kunjung padam. Hanya saja, aku masih punya iman. Iman kepada Tuhan tentu akan membantu membimbingku menjadi wanita bermartabat di hadapan Tuhan.
Kau tahu kan, bahwa cita-cita seorang muslimah hanyalah menjadi wanita sholihah di sisi-Nya? Tentu kau tahu. Karena jebolan pondok pesantren sepertimu mudah saja membedakan yang haq dan yang bathil. Bisa juga memilih wanita yang baik untuk bersanding dan menghabiskan waktu semasa hidup bersamamu. Aku tak tahu apapun tentangmu. Tentang keluargamu, ah.. jangankan keluarga, warna kesukaanmu saja aku tak mengenalnya.
Hal-hal yang penting bagi kebanyakan pasangan adalah saling memahami, mengerti apapun yang mereka sukai. Bahkan hal-hal konyol yang seringkali dilontarkan oleh mulut-mulut manja. Tapi bukan itu yang terpenting bagimu. Hubungan adalah tentang komitmen masa depan. Tentang bagaimana dan siapkah mengarungi lautan kesedihan? Mengarungi beribu bahkan sejuta cobaan? Dan ia adalah tentang kesetiaan walau komunikasi jarang dilakukan. Bagimu hanya itu. selainnya, hanya tambahan.
Kau mungkin lelaki unik yang pernah kukenal. Namun, kau tahu sendiri bahwa aku bukanlah tipe wanita seperti yang kau harapkan.
Aku tahu, mengingatmu hanya akan membuang waktu, karena tak ada lagi yang perlu dipertahankan dari hubungan yang semu. Maafkan diri ini, maafkan semua kenangan indah yang pernah kita lewati. Maafkan kecemburuanku melihat kau dengan teman seperjuanganmu. Maafkan aku telah lancang memintamu bertukar password fb seperi layaknya pasangan lain. Maafkan.
Mungkin kau sudah muak dengan permintaan maafku kali ini. Karena seminggu lalu aku juga telah mengirimkan tulisan tanda permintaan maaf di wall facebook mu. Tapi kau perlu tahu bahwa ini benar-benar tulus tanpa modus. Benar, hanya ini yang bisa kulakukan. Menjadi wanita tentu sulit dalam menegaskan perasaan. Tentu kau paham betul soal perasaan. Sudikah kau memaafkanku?
Sudah, mungkin aku tak perlu memperpanjang pembahasan ini. Karena semakin lama membahas hanya akan menyisakan luka begitu dalam. Maaf, mengingatmu hanya akan membuang waktu.

Sarang, 06 November 2016

Komentar

Posting Komentar