PANDANGAN DAN PEMIKIRAN IGNAZ GOLDZIHER TERHADAP HADIS NABI
Oleh: Siti Afiah
I.
Pendahuluan
Hadis Nabi, atau yang sering juga disebut sebagai sunnah Nabi,
ternyata tidak hanya menarik perhatian umat Islam dan para sarjana muslim untuk
mempelajari dan mengkajinya. Sejumlah sarjana Barat (non muslim) juga terlihat
memiliki perhatian serius terhadap masalah ini. Mereka banyak mengkaji hadis
Nabi, terutama menyangkut soal otentisitasnya.
Persoalan otentisitas hadis Nabi memang selalu menarik untuk dikaji
dan diteliti. Para ahli hadis (muhaddisin) sebenarnya telah melakukan
kajian mengenai hal tersebut. mereka
telah melakukan analitis kritis atas sejumlah hadis nabi melalui metode kritik
(sanad) hadis. Mereka mencoba memisahkan hadis-hadis palsu dari yang shahih. Namun,
para sarjana Barat tidak puas atas kajian dan penelitian yang dilakukan oleh
orang Islam. Mereka mencoba mengkaji dan meneliti sendiri mengenai hadis Nabi
tersebut.
Salah satu orientalis yang mengkaji hadis Nabi adalah Ignaz
Goldziher. Pada abad XIX dan XX, Goldziher dan para sarjana Barat lainnya mulai
meragukan validitas teori kritik hadis yang digunakan oleh para sarjana muslim
dan sekaligus mempertanyakan otentisitas hadis Nabi yang terdapat dalam
kitab-kitab kanonik.[1] Selanjutnya
mereka mulai merumuskan teori-teori baru yang diharapkan akan betul-betul mampu
menyeleksi dan memisahkan hadis-hadis palsu dari yang shahih (otentik).
Kajian mengenai orientalis hadis sangatlah urgen untuk diketahui,
terutama bagi seorang muslim. Mengingat hadis Nabi adalah sumber rujukan kedua
setelah Al-Qur’an, maka mengenai keotentikan dan keaslian suatu hadis haruslah
jelas. Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini penulis akan mencoba membahas
mengenai pandangan dan pemikiran Ignaz Goldziher.
II.
Sekilas Biografi Ignaz Goldziher
Menurut M.
Musthafa Azami, orientalis yang pertama kali melakukan kajian hadis adalah
Ignaz Goldziher, seorang Yahudi kelahiran Hongaria (1850-1920 M). Ia berasal dari keluarga Yahudi yang
terpandang dan memiliki pengaruh luas, tetapi tidak seperti keluarga Yahudi
Eropa yang sangat fanatik saat itu. Ignaz Goldziher adalah termasuk orientalis
terkemuka yang mendalami ilmu-ilmu Islam termasuk di bidang hadis.
Pendidikannya
dimulai dari Budhapest kemudian melanjutkan ke Berlin pada tahun 1869 dan
pindah lagi ke Universitas Leipzig, kemudian ia kembali ke Budapest dan
ditunjuk sebagai asisten Guru Besar di Universitas Budapest pada tahun 1872.
Setelah itu ia mengadakan perjalanan ke Timur Tengah, Suriah dan Palestina dan
kemudian menetap di Kairo. Saat itu ia biasa membaca buku-buku tebal dan
memberikan ulasannya. Buku klasik pertama yang menjadi kajiaanya adalah Azh-Zhahriyah:
Madzabuhum wa Tharikhuhum.
Pada tahun 1889
Goldziher menulis karangan yang bertalian dengan kajian hadist yang berjudul Dirasat Islamiyyat dua
juz, dalam bukunya al Aqidah was Syariah fil Islam. [2] Pada juz pertama Goldziher
membahas tentang al-Watsaniyah wa al-Islam, dimana ia memakai pendekatan baru
dalam mengkaji masalah ini. Goldziher menjelaskan bagaimana proses terjadinya
pengislaman dan nilain-nilai Islam yang menjadi unggulan atas tradisi jahiliyyah.
Pada juz kedua
dari karyanya inilah yang perlu diwaspadai karena karya ini sangat penting dan
mengandung unsur pembelokan yang sangat berbahaya. Menurutnya, hadist merupakan
sumber utama untuk mengetahui perbincangan politik, keagamaan, dan mistisme
dalam Islam. Jadi, hadist tidak digunakan sebagai alat untuk mengetahui
perilaku nabi, tetapi lebih untuk kepentingan tiap kelompok aliran, baik
kelompok politik maupun keagamaan.[3]
Diantara
karya-karyanya adalah:
1. Muhammedanisnche Studien (2 jilid, 1889-1890)
2. Vorlesungen uber den Islam (Introduction to Islamic Theology and Law)
3. Muslim
Studies
4. Methology
Among The Hebrews And Its Historical Development
5. On The
History of Grammar Among The Arabs
6. Zahiris: Their Doctrine and Their History, a
Contribution diterbitkan
pada tahun 1884.
7. Short
History of Classical Arabic Literature
8. Le Dogme et Les Lois de L’Islam (The Principle of Law is Islam)
9. Etudes Sur La Tradition Islamique, dan karya-karya tulis lainnya.
10. Die Riechtungen der islamischen Koranauslegung (Mazhab-Mazhab Tafsir dalam Islam,
Leiden,1920)
III.
Pemikiran Ignaz Goldziher terhadap Otentitas Hadis
Di
kalangan orientalis, hadis merupakan salah satu hal yang penting untuk diteliti
dan dikaji. Masing-masing orientalis mempunyai pendapat dan hasil penelitian
yang berbeda. Tentu juga berlandaskan argumen dan rujukan yang berbeda pula.
Sejumlah
pemikir meragukan kebenaran hadis yang berasal dari Nabi dan hal itu menurut
mereka dapat dibuktikan secara historis, sedangkan sebagian pemikir yang lain
mempercayai bahwa hadis memang berasal dari Nabi. Masing-masing kelompok
mengemukakan berbagai argumen yang tampak sama-sama meyakinkan.
Ignaz
Goldziher yang termasuk kelompok pertama yang mengatakan: fenomena hadis
berasal dari zaman Islam yang paling awal. Akan tetapi, karena kandungan hadis
yang terus membengkak pada era selanjutnya dan dalam setiap generasi muslim
materi hadis berjalan paralel dengan doktrin-doktrin fiqih dan teologi yang
seringkali saling bertentangan maka dapat disimpulkan bahwa sangat sulit untuk
menentukan hadis-hadis orisinal yang berasal dari Nabi. [4]
Goldziher juga sepakat bahwa hadis merupakan kumpulan anekdot[5]
pada zaman Nabi.
Ignaz
golgziher merupakan salah satu wakil dari kelompok revisionis.[6] Ia
menyatakan keraguan atas kesejarahan dan keshahihan hadis. Setelah mengkaji
beberapa hadis dalam kitab-kitab kanonik, ia lebih cenderung pada sikap
hati-hati yang skeptis dari pada kepercayaan yang optimis. Goldziher telah
menegaskan pendapatnya mengenai As-Sunnah dalam bukunya al-Aqidatu wa
asy-Syari’atu fi al-Islam yang kemudian dikutip oleh Putriyanti dan Elis
Tsulatsiah dalam Kajian Orientalis terhadap Al-Qur’an dan Hadis:
Kami tidak bisa menisbatkan hadis-hadis palsu itu hanya kepada
generasi-generasi belakangan (yaitu generasi sesudah sahabat dan tabi’in)
karena pada masa-masa sebelumnya, hadis hadis tersebut telah muncul.
Hadis-hadis ini adakalanya diucapkan Rasulullah atau merupakan praktek
kehidupan sahabat dan tabi’in. Akan tetapi, disisi lain, sulit untuk
mendapatkan kejelasan dan menelusuri “bahaya” yang terus bermunculan ini dengan
rentnag waktu yang lama dantempat ynag berjauhan dari sumber asli, karena para
tokoh berbagai aliran, baik yang bersifat teoritis maupun praktis, telah
membuat hadis-hadis yang tempaknya asli. Hadis-hadis itu dinisbatkan kepada
Rasulullah dan para sahabatnya. Kenyataannya, setiap pemikiran, parta, dan
setiap penganut suatu aliran dapat menopang pendapatnya dengan cara ini.[7]
Menurut
Goldziher, hadis tidak memiliki kemurnian sama sekali walaupun tetap memiliki
kedudukan kuat sebagai sumber ajaran Islam. Menurutnya, tidaklah dapat
dipertanggungjawabkan secara ilmiah untuk menganggap hadis secara keseluruhan
berasal dari Nabi Muhammad. Menurut Goldziher, tidak mungkin hadis atau sunnah
bersumber dari Nabi Muhammad Saw. Kalaupun ada bukti tentang hal itu, maka akan
sangat sulit menentukan kebenaran dan keabsahannya.[8] Kemudian
Goldziher menyimpulkan bahwa sebagian besar hadis merupakan akibat dari
perkembangan Islam secara religius, historis, dan sosial selama dua abad
pertama.
Goldziher
beranggapan bahwa para Ulama lebih mengedepankan kritik sanad dan tidak fokus
pada sisi matan. Disebabkan hanya bertumpu pada kritik sanad semata, Goldziher
menilai bahwa apa yang dilakukan oleh para Ulama dalam melakukan kritik hadis
tidak maksimal. Kebanyakan para Ulama memberikan penilaian shahih kepada suatu
hadis meski hanya selesai pada tataran sanad, seringkali matan hadis diabaikan
dari telaah kritis.[9]
Terdapat
beberapa alasan yang menyebabkan Goldziher meragukan keshahihan hadis Nabi: pertama,
koleksi hadis belakangan tidak menyebutkan sumber tertulisnya dan memakai
istilah-istilah isnad yang lebih mengimplikasikan periwayatan lisan daripada
periwayatan tertulis. Kedua, adanya hadis-hadis yang kontradiktif satu
sama lain. ketiga, perkembangan hadis secara massal yang tidak termuat
dalamkoleksi hadis lebih awal. Keempat, para sahabat kecil lebih banyak
mengetahui Nabi, dalam arti mereka lebih banyak meriwayatkan hadis daripada
sahabat besar.[10]
IV.
Kritik Atas Pemikiran Ignaz Goldziher
Bagaimanapun juga, ternyata pemikiran orientalis Yahudi Ignaz
Goldziher ini berpengaruh luas. Bukan hanya di kalangan orientalis saja,
melainkan juga kalangan pemikir muslim. Misalnya Ahmad Amin, seorang pemikir
muslim kenamaan dari Mesir. Dalam bukunya, Fajr al-Islam telah banyak
terkecoh oleh teori-teori Goldziher dalam mengkritik hadis.[11]
Pendapat Goldziher mengenai isnad menimbulkan respon keras dari
kalangan pengkaji hadis tradisional. Salah satu diantaranya adalah Fuat Sezgin.
Sezgin menilai bahwa Goldziher salah di dalam memahami beberapa kata kunci yang
terkait dengan periwayatan hadis. Akan tetapi, Sezgin mengakui bahwa Goldziher
tidak memiliki seluruh sumber yang bisa didapatkan belakangan ini dan sebagai
konsekwensinya ia tidak bisa dipersalahkan secara membabi buta.
Begitu juga dengan Nadia Abbott, seorang islamolog terkemuka juga
mendukung pendapat Sezgin. Abbott menyatakan bahwa praktik penulisan hadis
sudah berlangsung “sejak awal” dan “bersinambungan”. Kata “sejak awal” di sini
mengandung arti bahwa para sahabat Nabi sendiri telah menyimpan catatan-catatan
hadis, sementara kata “bersinambungan” berarti bahwa sebagian besar hadis
memang diriwayatkan secara tertulis, selain tentunya juga dengan lisan, hingga
akhirnya hadis-hadis itu dihimpun dalam berbagai koleksi kanonik. Periwayatan
hadis secara tertulis inilah yang menurutnya dapat dijadikan sebagai jaminan
bagi keshahihannya.[12]
Selain Fuat Sezgin dan Nadia Abbot, Azami juga mengkritik pemikiran
Ignaz Goldziher. Bantahan Azami atas pemikiran Goldziher tentang hadis kemudian
dikelompokkan menjadi berikut:
1.
Asal
usul hadis
Menurut
Azami terdapat kesalahan di dalam memahami makna sunnah dan hadis dalam
pandangan mereka. Menurut Azami, pandangan Goldziher ini tidak berdasarkan
argumen yang dapat dipercaya sama sekali dan bertentangan dengan dalil-dalil
yang ada. Tradisi yang berkembang dalam dunia Islam dan dilakukan oleh kalangan
muslim sebenarnya tidak lepas dari tradisi kebiasaan orang-orang sebelum Islam
datang. Kebiasaan-kebiasaan perilaku yang dilakukan Nabi dan umat Islam juga
sama dengan kebiasaan-kebiasaan orang yang ada pada masa sebelumnya, tetapi hal
ini tidak berlaku dalam masalah hukum dan keyakinan.
Menurut
Azami, kata sunnah memang berasal dari bahasa Arab dan telah dipakai sejak masa
pra-Islam. Kata tersebut diartikan secara bahasa sebagai tata cara, perilaku
hidup, syariah, dan jalan hidup, terpuji atau tercela. Kata sunnah ini dapat
ditemukan di berbagai syair Arab pra-Islam maupun sesudah masa Islam. Goldziher
dipandang oleh Azami terjebak dalam memahami makna sunnah sebagai masalah yang
ideal dan norma yang disepakati masyarakat. Azami menegaskan, tradisi kebiasaan
dan perilaku kehidupan Nabi jauh berbeda dengan sunnah yang dilakukan
orang-orang jahiliyah dan animis. Sedangkan tradisi Nabi tersebut tidak
dibangun atas dasar mengadopsi tradisi sebelumnya, bahkan Nabi berupaya merubah
dan menghindari tradisi kebiasaan yang salah. Meski ada pula tradisi yang
diikuti tetapi tidak berkisar pada permasalahan hukum dan kebiasaan yang
menyimpang dari doktrin Islam.
2.
Periwayatan
dan penulisan hadis
Dalam
menanggapi hal ini, Azami bersikukuh pada pandangannya bahwa dalam penyebaran
hadis tidak hanya menggunakan metode lisan tetapi juga tulisan. Alasan yang
digunakan untuk membangun teori dan pandangan ini, Azami memberi koreksi bahwa
kebanyakan ulama hanya menerima pendapat yang mayoritas beredar dan yang
diketahui.
V.
Kesimpulan
Dari pembahasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwasannya Ignaz
Goldziher adalah salah satu tokoh orientalis yang mengkaji tentang hadis nabi
pada abad XIX dan XX, ia lahir pada tanggal 22 Juni 1850 disebuah kota di
Hongaria. Ignaz Goldziher merupakan salah satu wakil dari kelompok revisionis. Ia
menyatakan keraguan atas kesejarahan dan keshahihan hadis. Setelah mengkaji
beberapa hadis dalam kitab-kitab kanonik, ia lebih cenderung pada sikap
hati-hati yang skeptis dari pada kepercayaan yang optimis.
Menurut Goldziher, hadis tidak memiliki kemurnian sama sekali
walaupun tetap memiliki kedudukan kuat sebagai sumber ajaran Islam.
Menurutnya, tidaklah dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah untuk menganggap
hadis secara keseluruhan berasal dari Nabi Muhammad. Menurut Goldziher, tidak
mungkin hadis atau sunnah bersumber dari Nabi Muhammad Saw. Kalaupun ada bukti
tentang hal itu, maka akan sangat sulit menentukan kebenaran dan keabsahannya.
Kemudian Goldziher menyimpulkan bahwa sebagian besar hadis merupakan akibat
dari perkembangan Islam secara religius, historis, dan sosial selama dua abad
pertama.
Diantara karya-karyanya adalah
sebagai berikut: 1. Muhammedanisnche Studien (2 jilid, 1889-1890), 2. Vorlesungen uber den Islam (Introduction to Islamic Theology and Law), 3. Muslim Studies, 4. Methology Among The
Hebrews And Its Historical Development, 5. On The History of Grammar Among The
Arabs, 6. Zahiris: Their Doctrine and Their History, a
Contribution diterbitkan
pada tahun 1884, 7. Short History of Classical Arabic Literature,
8. Le Dogme et Les Lois de L’Islam (The Principle of Law is Islam), 9. Etudes Sur La
Tradition Islamique, dan
karya-karya tulis lainnya, 10. Die Riechtungen der islamischen Koranauslegung (Mazhab-Mazhab Tafsir dalam Islam, Leiden,1920)
Daftar
Pustaka
Farida Ari, “Kritik Orientalis Terhadap Hadits (Telaah Atas Kritik
Ignaz Goldziher, Joseph Schacht dan Jyunboll)”, dalam
http://munfarida.blogspot.co.id/2010/05/kritik-orientalis-terhadap-hadits.html,
(diakses pada 16 Oktober2015).
Barack, Fernando, Tokoh Orientalis “Ignaz Goldziher”, dalam
http://quranhaditsknowledge.blogspot.co.id/2013/03/tokoh-orientalis-ignaz-goldziher_8089.html,
(diakses pada 20 oktober 2015)
Fathurrahman, Muhammad. “Pandangan Ignaz Goldziher terhadap Hadis”,
dalam http://fathurrohman8685/2021/11/30/pandangan-ignaz-goldziher-terhadap
-hadis/, (diakses pada 19 Oktober 2015).
Isnaeni, Ahmad,
“Pemikiran Goldziher dan Azami tentang Penulisan Hadis”. Skripsi IAIN Raden
Intan Lampung, 2012.
Masrur, Ali. Teori Common Link G.H.A. Juynboll Melacak Akar
Kesejarahan Hadis Nabi. Yogyakarta: LKIS, 2007.
Priyanti
dan Elis Tsulatsiah, “Ignaz Goldziher dan Otentisitas Hadis”, Kajian Orientalis
terhadap al Qur’an dan Hadis, ed. M. Anwar Sharifuddin, (2011-2012),
Yaqub, Ali Mustafa. Imam Bukhari dan Metodologi Kritik dalam
Ilmu Hadis. Jakarta: Pustaka Firdaus, 1992.
[1] Kanonik adalah
sebuah istilah yang berasal dari kata “kanon”, yang memiliki arti: 1.
Peraturan-peraturan atau prinsip-prinsip yang diakui atau diterima. 2. Sebuah
kriteria atau standar penilaian. 3. Sebuah kumpulan atau kesatuan dari
prinsip-prinsip, aturan-aturan, standar-standar, atau norma-norma.
[2] Farida Ari,
“Kritik Orientalis Terhadap Hadits (Telaah Atas Kritik Ignaz Goldziher, Joseph
Schacht dan Jyunboll)”, dalam http://munfarida.blogspot.co.id/2010/05/kritik-orientalis-terhadap-hadits.html, (diakses pada
16 Oktober2015).
[3] Fernando Barack, Tokoh Orientalis “ Ignaz Goldziher”, dalam http://quranhaditsknowledge.blogspot.co.id/2013/03/tokoh-orientalis-ignaz-goldziher_8089.html, (diakses pada 20 oktober 2015)
[4] Ali Masrur, Teori
Common Link G.H.A. Juynboll Melacak Akar Kesejarahan Hadis Nabi, (Yogyakarta:
LkiS, 2007), 2.
[5] Cerita singkat
yang menarik karena lucu dan mengesankan, biasanya mengenai orang penting atau
terkenal dan berdasarkan kejadian yang sebenarnya.
[6] Orang yang
dianggap menyimpang atau mengubah suatu ajaran.
[7] Putriyanti dan
Elis Tsulatsiah, Orientalis terhadap Al-Qur’an dan Hadis; Ignaz Goldziher
dan Otentisitas Hadis, (ttp: UIN,
2012-2013), 112.
[8] Muhammad
Fathurrahman, “ Pandangan Ignaz Goldziher terhadap Hadis”, dalam http://fathurrohman8685/2021/11/30/pandangan-ignaz-goldziher-terhadap
-hadis/, (diakses pada 19 oktober 2015).
[9] Ahmad Isnaeni,
“Pemikiran Goldziher dan Azami tentang Penulisan Hadis”. (Skripsi di IAIN Raden
Intan Lampung, 2012), 370.
[10] Ibid., 34.
[11] Ali Mustafa
Yaqub, Imam Bukhari dan Metodologi Kritik dalam Ilmu Hadis, (Jakarta:
Pustaka Firdaus, 1992), 29-30.
[12] Ali Masrur, Teori
Common Link G.H.A. Juynboll Melacak Akar Kesejarahan Hadis Nabi,
(Yogyakarta: LkiS, 2007), 42.
Komentar
Posting Komentar