Antara Cinta dan Dusta


Antara Cinta Dan Dusta
Oleh: Siti Afiah
Butuh waktu yang lama untuk sekedar melupakan masa lalu. Melupakan semua kenangan-kenangan indah di masa silam. Apalagi jika kenangan itu terukir bersama dengan orang yang kita sayang. Tentu rasanya sakit bukan, jika untuk dilupakan?
Ini pertama kalinya aku merasakan kesedihan tentang cinta anak muda. Kata orang, ini hanya cinta monyet saja. Namun, aku tak pernah bisa peduli tentang tanggapan orang lain mengenai cinta monyet dan cinta sejati. Aku hanya percaya bahwa cinta itu murni datang dari hati. Ya, murni dari ketulusan seseorang.
Sudah hampir enam bulan ini aku terpuruk dengan perasaan bodoh. Perasaan yang selalu mengantarkanku dengan setan dan menjauhkanku terhadap Tuhan. Perasaan yang selalu mengajakku bertarung melawan kuasa Tuhan. Ini memang murni terjadi pada diriku. Pada diri yang bodoh dan tak bisa mengusir bisikan-bisikan setan itu di telingaku. Rasanya bayangan tentang dirinya selalu saja hadir begitu saja disaat aku ingin melakukan apapun itu. walau sebenarnya aku dan dia tak sering bertemu. Maklum saja, dia sedang berada dalam instansi yang membatasi teknologi dan melarang untuk menikmati udara luar selain penjara suci.
Aku dan dirinya memang sangat jauh berbeda. Seperti prediksi yang kutulis di buku biru muda milikku. Semua tak ada yang meleset sedikitpun. Perbedaan yang sangat mencolok antara keluargaku dengan keluarganya, antara pergaulanku yang tak pernah membatasi cowok ataupun cewek, belum lagi lingkungan hidup ala pesantren dan anak jalanan. Awalnya aku merasa kedekatan kita adalah hal yang biasa, lumrah seperti kedekatanku dengan Roni, Bagas, Indar dan teman-temanku lainnya. Dia tidak pernah menunjukkan gaya ala pesantrennya di hadapan kami, meski lama-lama aku tahu apa yang dia inginkan.
11 januari
Hari itu adalah awal aku berjumpa dengan sosok pemuda yang mengagumkan. Seringkali cinta datang tanpa permisi. Aku juga tak pernah mengenal dia sebelumnya. Hanya perkenalan singkat dan senyuman kecil di bibirnya. Aku juga tak pernah menyadari jika dia seringkali mencuri-curi pandang lewat kaca spion motorku. Ada-ada saja memang, tapi yang jelas waktu itu aku tak ada sedikitpun rasa suka atau sejenisnya kepada dia.
Burhan memang orang asing bagiku, pun bagi teman-teman jalanan dia juga agak kaku bergaul dengan kami. Mungkin karena status kami yang berbeda. Dia bukan anak jalanan yang kurang pendidikan seperti kami. Suatu hari ketika ada kebakaran dekat markas kami, Burhan dan teman-temannya datang untuk menolong. Sepertinya sih mereka pemadam kebakaran. Aku pun kurang peka terhadap itu. sebenarnya bukan kurang peka, aku saja yang merasa itu adalah hal yang kurang penting bagiku. Aku mulai mengenalnya lebih jauh saat dia mengajakku membeli obat-obatan dan sedikit bahan makanan. Percakapan-percakapan ringan dan perkenalan itu membuatku sedikit nyaman dengannya. Aku tak tahu persis dia berasal dari mana, tapi yang kutahu dia adalah seorang santri yang sedang diutus kiainya mengatasi hal-hal macam ini. Ya, semacam kegiatan sosial.
Hari itu, aku merasa ada hal yang aneh dalam diriku. Aku mulai mengagumi sosok Burhan. Pemuda berwajah teduh dengan seulas senyum yang menawan. Aku tak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Maklum saja, sejak kecil aku hanya berteman dengan Bagas, Indar dan Roni. Ada yang lain tapi tak sedekat dengan mereka. Bagiku, mereka adalah keluarga keduaku setelah emak.
aku merasa pertemuanku dengan Burhan adalah anugerah terindah yang telah disiapkan Tuhan kepadaku. Serasa seperti lagunya Andra and the backbone,
sebelas januari bertemu
menjalani kisah cinta ini
naluri berkata engkaulah jiwaku.
Mungkin aku terlalu menghayal begitu jauh. Sampai-sampai Bagas menyapaku dengan sedikit sindiran renyah di mulutnya.
“Sejak kapan cengar cengir sendiri, Mil? Kayak orang lagi kasmaran. Ehm”
“enggaakk..”
Sepertinya aku harus menahan perasaan ini dulu. Mungkin ini hanya sekedar nyaman berada di dekat Burhan. Sama seperti kenyamananku saat berada di dekat Bagas, Roni dan Indar. Tak pernah sebelumnya aku suka dengan orang baru. Orang yang baru aku kenal dan begitu juga mengenalku. Aku lebih cuek untuk mendekati atau bahkan berbicara padanya. Tapi yang kurasa, hal ini berbeda dengan Burhan. Dia sama sekali tidak pernah menghina anak jalanan seperti kami, bahkan dia mengaku ingin berteman dengan kami. Aku langsung menyetujuinya tanpa sepengetahuan Bagas, Indar dan Roni.
Malam harinya, aku merasa seperti disidang di pengadilan yang hukumannya akan digantung mati. Bagas, Indar dan Roni memarahiku tentang kejadian yang sengaja aku sembunyikan dari penglihatan mereka.
“Ya, aku menerima Burhan di kelompok ini. Ada yang salah?”
sebenarnya aku juga merasa bersalah atas tindakanku yang egois dan tidak memikirkan perasaan mereka. Mungkin aku nyaman dengan Burhan, tapi mereka belum tentu sama denganku.
“Jelas salah, Mil. Kamu nggak ingat perjanjian kita? Perjanjian untuk selalu terbuka masalah kelompok ini?” Indar menukasku dengan nada yang tinggi.
“Aku ingat, ...
Belum lama kumeneruskan kalimatku, Bagas mengajak untuk menyelesaikan masalah ini dengan kepala dingin. Diantara kami berempat, Bagaslah yang lebih pintar mendamaikan suasana. Maklum saja, dia jauh berpendidikan dari pada kami. Kami hanya tamat SD dan Bagas adalah tamatan SMA.
“Kita terima saja si Burhan di kelompok ini, toh dia sepertinya anak baik. Kita kan pernah janji kalau tidak ada salah satu diantara kelompok ini yang jadi berandalan atau ornag yang tidak baik.”
“Tapi Gas, kita kan belum tahu si Burhan itu orang seperti apa? Dandanannya memang sok alim. Tapi dalemnya kita kan nggak tahu.” Tukas Roni.
“Betuul .” ujar Indar tanda setuju
Aku hanya diam saja untuk menanggapi masalah ini. Takut jika nanti aku mempertahankan Burhan di kelompok ini akan ada anggapan ynag tidak-tidak dari mereka. Memang selama kami berteman, aku tak pernah berbuat hal semacam ini. Aku selalu melarang siapapun untuk bergabung dalam kelompok ini. Dan ini adalah yang pertama kali.
Masalah Burhan kali ini sudah selesai. Bagas telah memberikan masukan atau mungkin juga ceramah kepada Roni dan Indar untuk bisa menerima Burhan sebagai anggota di kelompok kami. Aku sungguh bahagia bisa setiap hari bersama, menghabiskan waktu bersama dan sesekali bercanda yang tak ada ujungnya.
Satu bulan kemudian
Setelah sebulan kami bersama, aku merasa dia memang berbeda dengan Roni, Indar dan Bagas. Aku mulai mengetahui dirinya dan sifat pemalunya itu. entah kenapa, aku merasa dia mempunyai rasa khusus kepadaku. Bukan kepde-an sih, hanya intuisi perasaanku saja.
Sama seperti biasa, kelompok kami selalu membantu orang-orang di pasar dekat sekolah Islam Bekasi. Dan, kali ini aku memberanikan diri untuk  meminta nomor teleponnya. Memang spertinya jadul sih, jaman sekarang masih saja minta nomor telepon untuk memulai berkencan. Hehe. Wajar saja, aku tidak mempunyai iphone atau android yang di dalamnya terdapat banyak  aplikasi socmed. Facebook saja aku tak pernah buat, apalagi twitter, Bbm, line atau apalah yang sedang nge-hits saat ini.
“Han, nomor telepon.” Aku menyodorkan hape jadulku ke tangannya.
Sebenarnya ada rasa malu, tapi aku mengatakannya hanya untuk sekedar koordinasi. Ya, keberadaanku di kelompok ini memang sebagai seorang ketua. Kalau istilahnya sekarang sih ketua geng. Tapi, Bagas selalu menolak dengan sebutan ‘geng’, katanya kelompok lebih bagus dan menunjukkan kebersamaan yang abadi.
Burhan telah mengisi nomor teleponnya di hapeku. Aku senang bukan main. Malam hari seusai mandi, ku ketik sms dan kukirim ke nomor Burhan.
Udah mndi blom? J
Belum ada beberapa menit, Burhan pun membalas sms ku.
Udah kok, bu ketua yang cantik J
Dengan jawaban yang seperti itu, rasanya bak bidadari yang melayang tinggi ke angkasa. Seumur-umur aku belum pernah menerima sms seperti itu dari lawan jenis. Paling sms ya biasa-biasa saja. urusan pasar, hutang, atau yang lain yang berhubungan dengan pekerjaan. Tak pernah aku membahas masalah yang lain, apalagi soal perasaan.
Malam itu percakapan tak lagi kami teruskan. Hanya sekedar menyapa itu sudah luar biasa. Bagiku, semua yang berhubungan dengan Burhan adalah anugerah Tuhan yang paling istimewa.
Hampir dua bulan ini aku tak pernah melihat Burhan lagi datang ke markas kami. Ada rasa rindu yang luar biasa di dalam hati ini. Rindu yang selalu mengganggu malamku untuk bisa bertemu bulan dan bintang. Rindu yang selalu mengganggu malamku untuk sekedar bertegur sapa lewat alam mimpi. Aku semakin sadar, bahwa Burhan adalah sosok malaikat yang dikirim Tuhan untuk menyempurnakan kabahagiaanku. Sosok malaikat yang dikirim Tuhan agar aku bisa merasakan cinta dan kehilangan yang luar biasa. Aku tahu, Tuhan telah banyak berkorban untuk hidupku. Sama seperti kejadian dua tahun silam, saat semua orang terdekatku memilih untuk pasrah dengan kondisi kanker hati yang stadium 4. Sampai saatnya Tuhan telah menyelamatku melalui perantara seorang yang sangat dermawan. Dia membawaku ke rumah sakit untuk melakukan operasi, dan semuanya berhasil. Aku tak tahu hati siapa yang telah ditransplantasikan untukku. Sehingga aku bisa merasakan iba dan duka yang sangat menyentuh kalbu.
Ibu Karmila, ketua kelompok yang baik... J sy mau keluar dr kelompok Garuda. Ada sdkit hal yg mendesak. Trimksh.
Aku merasakan sesak yang luar biasa setelah membaca sms dari Burhan. Ini adalah sms pertama kali setelah aku menyatakan perasaanku kepadanya. Tak ada jawaban dan balasannya adalah sms yang menyakitkan.
Aku memberi tahu semua anggotaku untuk mencaritahu keberadaan Burhan. Aku tak ingin ada salah satu diantara kami yang keluar gara-gara mendapat masalah. Aku ingin semua yng terjadi dintara kita adalah masalah bersama. Jadi, saat itu juga aku membagi tugas untuk mencaritahu dimana dan kenapa Burhan sampai memutuskan untuk keluar dari kelompok garuda.
Sehari berlalu tidak ada ynag menemukan keberadaan Burhan sama sekali. Akupun juga sama. Tak ada yang bisa kuhubungi lagi, nomor Burhan pun tak aktiv. Aku baru ingat, sebulan setelah dia resmi menjadi anggota kelompok kami, dia mengenalkanku dengan teman dekatnya yang berada di Bandung. Aku juga tak tahu alamatnya, tapi aku punya nomor telepon yang bisa aku hubungi untuk mencaritahu keberadaan Burhan saat ini. Setelah mendapat info dari Luthfi, teman Burhan. Kami berempat pun mencari alamat rumah yang telah diberitahukan Luthfi kepada kami.
Ada sedikit kejanggalan dalam hati ini. Rumah ynag begitu besar dengan mushalla dan tulisan yang terpampang YAYASAN BURHAN AL-DIN-BEKASI. Ini cukup membuat hatiku tak yakin bahwa bangunan besar di depanku adalah rumah Burhan. Tak mungkin saja, dulu dia berkata bahwa tak ada keluarga yang tersisa. Dia hnaya tinggal di rumah kecil milik tetangganya. Aku benar-benar tak percaya dengan itu, lalu kucoba meyakinkan Bagas, Indar dan roni untuk beranjak dari halaman rumah mewah itu.
Tanpa banyak omong, kami beremnpat pun keluar dari halaman rumah itu. percaya tak percaya, Burhan memang keluar dari rumah mewah itu dengan pakaian yang rapi. Aku tak pernah mengenal orang serapi seperti dia. Seperti orang kaya yang sombong. Tapi, aku percaya bahwa itu masih bukan Burhan yang kukenal. Mungkin hanya mirip saja.
Ketika kakiku mulai melangkah, Indar memaksaku untuk diam sejenak. Sepertinya dia mengajak untuk menguping pembicaraan diantara kedua orang itu. orang yang mirip dengan Burhan tapi mungkin saja itu tidak Burhan yang kami cari.
“Mau kemana han?”
“Keluar sebentar yah.”
“Mau kemana? Ke pasar? Dengan anak-anak jalanan itu?”
Pasar? Anak jalanan? Bukankah itu artinya dia adalah Burhan ynag kukenal? Aku masih saja meraba-raba semua perkataan bapak tua itu. lalu keteruskan untuk menguping pembicaraan mereka lagi.
“Yah, aku pengen ketemu Mila. Sebentar saja, aku ingin minta maaf pada mereka juga.”
“Kamu tak pernah bisa jujur kepada ayah, Burhan. Bukankah kamu sedang ada acara pertunangan?”
Kali ini, aku sudah tak bisa lagi menahan langkahku. Aku beranjak pergi dari rumah Burhan tanpa sepengetahuannya. Aku merasakan sakit yang luar biasa, sakit yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Dan, aku baru tahu bahwa diantara sakit hati yang paling sakit adalah dibohongi.
Selesai
Kenduruan, 16 Agustus 2015.

Komentar